berita ‘sembako’ dan kerusuhan peladjar

1998_Mei_Edisi 090_peduli:
berita ‘sembako’ dan kerusuhan peladjar

Siapa bilang kakek-kakek kita dulu adalah murid-murid yang patuh? Jauh dari kerusuhan seperti yang terjdi di banyak kota besar? Jangan percaya dulu sebelum Anda membaca berita di bawah ini:
Namanja ‘Anak Sekolah’
Beberapa moerid sekolah melempai katja-katja gedung Jaarbeurs, sehingga ada 4 katja jang petjah. Orangtuanja dari si moerid jang ‘nakal’ tadi dari sebab tidak maoe beroeroesan dengan polisi, maka dimintanja soepaja katja-katja jang petjah itoe diganti sadja. Sebaliknja jang minta keroegian minta ganti oeang f. 20, tetapi akan diteroeskan pada Landyerecht.

Berita di atas dikutip dari surat kabar Kaoem Moeda No. 55/Senin 6 Marrt 1922 atau 7 Radjab 1340-1850. Selain surat kabar Tjahaja Timoer, Oetoesan Hindia, Hindia Poetera, De Express yang dipimpin oleh E.F.E. Douwes Dekker, Kaoem muda adalah salah satu surat kabar dimana Ki Hajar Dewantara, tokoh Pendidikan Indonesia sekaligus pencetus Tut Wuri Handayani itu pernah bekerja. Surat kabar terbitan Bandung ini teridiri dari 8 halaman yang banyak memuat berita-berita politik dalam maupun luar negeri.

Salah satu berita tentang ‘Sembako’, juga menjadi jeritan rakyat jaman itu. Misalnya saja tentang kelangkaan beras yang diberitakan Kaoem Moeda pada Djumahat, 3 Maart 1922, dengan berita sebagai berikut:

Jaman Soesah!
Kalaoe saja jadi ornag hartawan dan soeka menambah barang perkakas roemah dan dapoer jang setiap hari ditawarkan orang ke roemah saja, tentoe saja soedah poenja satoe goedang besar jang berisikan perkakas tadi dari jang banjak maoe menjoeal. Jang mendjadikan mereka demikian itoe tidak laen keterangan coema oentoek membeli beras!

Adoeh beras! Beras! Soenggoeh piloe dan pedihlah rasa hati keadaannja orang di sana hampir semoea kedatangan setan soesah mentjari makanan!

Adoeh! Adoeh! 2 kali lagi.
Tidaklah perlu di Menes itoe keadaan joealan beras jang semoerah-moerahnya?

Berita ‘sembako’ diatas mungkin suatu yang wajar dari sebuah negara yang berada dalam cengkeraman imprialis yang bernama Belanda. Tapi nyatanya, mengapa itu mesti terulang lagi sekarang? Siapa penjajah itu?

Pokoknya, segala perkabaran jang termuat dalam ini di luar tenggungannja oleh jang mentjitak Typ: KHO TJENG BIE, Batavia.

Sumber:
Microfil Surat Kabar Perpustakaan Nasional, Soeloeh Peladjar, Kaoem Moeda, dan Tjahaja Timoer “Ensiklopedi Indonesia edisi Khusus, Vol 4.

Leave a Reply

Close Menu