berbagi pengalaman seni

berbagi pengalaman seni

2001_Februari_Edisi 121_seni:
berbagi pengalaman seni
Ade Tanesia

Di acara “sharing art & shadow”, padepokan lemah putih, solo
“Bayang-bayang meletakkan dirinya di antara sesuatu yang nyata dan tidak nyata. Ia mewakili simbol tertentu, tetapi sekaligus cair makna dan misterius. Pertunjukan wayang menggerakkan bayang-bayang kehidupan dengan beragam makna yang muncul. Demikian pula para seniman yang tergabung dalam acara “Sharing Art & Shadow” di padepokan lemah putih milik Suprapto Suryadarma di Majasanga, Solo pada tanggal 4-8 Januari. Para seniman dari Yogyakarta, Makasar, Semarang, Jepara, Solo, Amerika dan Jerman mengekplorasi konsep bayang-bayang yang melahirkan bentuk-bentuk ekspresi seni. Bayang-bayang bisa menjadi gambaran kepedihan dunia seperti yang diinterpretasikan Bimo Wiwohatmo, menjadi momen mistik dalam tradisi Sintren yang disajikan Slamet Gundono, atau cara untuk menertawakan kehidupan pahit dengan humor satirnya Wayang Ndangdut dari kelompok RI.Dut.
Sintren Ki Slamet Gundono

Di bawah rintikan hujan, suara Slamet Gundono, dalang wayang Suket yang kondang itu, melengking indah. Bentangan kain putih yang dijadikan kelir dan obor sebagai penerangan menjadi setting ruang pertunjukan sintren, sebuah kesenian khas daerah Jawa Pesisir bagian utara. Penari Rini mulai menggerakkan tubuhnya dan memberikan nuansa dan erotis pada pertunjukan tersebut. Sementara sang sintren, perempuan cilik yang nantinya akan ndadi (trance) ditutupi sangkar burung berukuran besar. Begitulah pertunjukan sintren terus berlangsung, tarian demi tarian disuguhkan, tabuhan kendang, celoteh segar serta nyanyian khas Tegal memandu seluruh adegan hingga usai.
Jika slamet Gundono mengambil inspirasi dari kesenian rakyat, maka Suprapto Suryodarma yang berkolaborasi dengan pemusik I Wayan Sadra mengekplorasi gerakan-gerakan spiritual di panggung berbentuk mendala serta hanya diterangi beberapa obor. Pendiri padepokan Lemah Putih ini sejak tahun 1986 memang telah mengembangkan teknik olah gerak yang disebutnya Joged Amerta, Sebuah ekspresi kesenian menekankan pada pengolahan gerak nurani (inner act) yang mepersatukan unsur manusia, alam dan ketuhanan.
Wayang Ndangdut!

Penuh humor, penuh kritik pedas, inilah wayang ndangdut. Dalang Ki R.T. Jlitheng Suparman Hadipura dari Solo membawakan lakon “Pelacur Dalam Perspketif Sosiologis”. Judul yang berkesan serius dan ilmiah justru disatukan dengan humor satir yang sarat muatan kritik terhadap berbagai pihak yang telah menjadikan pelacur sebagai sosok marjinal yang dengan demikian sah untuk diperas, sah untuk diremehkan, sah untuk diperdagangkan, dan lain-lain. Selama dua jam pertunjukan, perut penonton dikocok oleh humor yang cerdas. Apalagi tokoh-tokoh wayang yang dibuat oleh Pak Suherman M. Sumarta sangat ekspresif dan karikatural, misalnya ada tokoh banci, tokoh wartawan berdialek Madura. Ditambah dengan lagu-lagu irama dangdut ciptaan sendiri yang ringan, enak didengar dan liriknya sungguh jenaka. Wayang dangdut yang berakar dari wayang kampung ini memang belum lama berdiri, tetapi nampaknya mereka akan memperoleh banyak penggemar karena mereka lebih banyak memakai bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Kelompok yang didirikan oleh sembilan seniman Solo ini nampaknya sangat sadar akan keunikan karyanya, sehingga mereka telah membuat hak paten genre wayang Ndangdut secara hukum. Lebih dari itu, setiap pemainnya memperoleh royalti di setiap pementasan, meskipun dalam keadaan terpaksa ada personil tidak dapat main dalam sebuah pertunjukan.
Satu Malam di Candi Sukuh

Lima Januari pagi hari, rombongan berangkat ke Candi Sukuh, sekitar satu setengah jam dari kota Solo. Candi yang didrikan sekitar awal abad ke-15 ini memang mempunyai bentuk yang lain dari candi-candi Jawa lainnya. Bentuk pundek berundaknya mirip seperti monumen-monumen orang Maya. Letak candi yang berada di lereng gunung seringkali memunculkan kabut yang membuat candi ini menjadi sangat indah sekaligus mistis. Di tempat inilah sejumlah acara digelar dengan suasana yang sungguh berbeda.

Pada siang hari, Yani penari teater Ilagaligo Makasar berkolaborasi dengan Mbak Lucy dari Theater of Pain Semarang. Diiringi dengan musik gendang Makasar oleh Kelompok Daeng Mile dari Takalar, Goa, Sulawesi Selatan, kolaborasi ini menjadi sangat menarik. Daeng Mile, petani asal Makasar ini memang sengaja datang ke Solo untuk memenuhi undangan Padepokan Lemah Putih.

Sementara di malam hari, Bimo Wiwohatmo, koreografer tari asal Yogyakarta, mempersembahkan repertoar berjudul “Layar Tancep”. Repertoar ini pernah dipentaskan di Yogyakarta, hanya setting pelataran candi telah menghantarkan estetik tarian yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bimo membentangkan sebuah layar pelataran, sementara di tangga-tangga candi di susun lilin-lilin serta obor di beberapa sudut pelataran. Para penari yang turun dari atap candi membuat gerakan-gerakan bayangan dari balik kelir yang diterangi dengan cahaya berwarna biru dari proyektor. Visual gerak ini menjadi sangat indah ditengah dinginnya malam. Apalagi dua seniman Yogyakarta, Nanang dan Anto membuat sebuah happening art dengan membiarkan dirinya telanjang dilumuri tanah serta menggantung di satu pohon besar. Langsung saja salah satu penari merespon keberadaan mereka sehingga seluruh pertunjukan tersebut menjadi kolaborasi yang indah.

Selama beberapa hari, rombongan memang dipuaskan dengan berbagai pertunjukan yang menarik. Namun lebih dari itu, acara ini telah memungkinkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia saling bertemu, saling berkomunikasi dan cikal bakal terbentuknya jaringan komunikasi seni se-Indonesia. Kelak akan ada Makasar Art Forum, Festival Pertunjukan Palu, juga acara kesenian di Jepara. Tentunya jaringan kesenian antar daerah ini sangat penting. Bukankah dapat menjadi alat ampuh untuk menjalin hubungan damai serta membuka-buka wawancara yang sempit?

Leave a Reply

Close Menu