Berawal dari Ngobrol

1998_Maret_Edisi 088_bahas:
Berawal dari Ngobrol

Mengintip Pekerja Kreatif Kelompok Bagito dan Patrio

“Ah nggak ada. Ya cuma nggobrol-nggobrol gini!” ungkap Didin, salah satu personel Bagito setengah bercanda ketika menjawab pertanyaan mengenai proses kreatif.

BaSho, salah satu acara komedi yang pernah berada di rating jajaran atas RCTI.

“Proses awalnya sih, memang ngobrol kayak begini. Tapi bagaimana kita bersikap professional terhadap  obrolan tadi,” tambah Dedet R. Boer, salah satu pekerja kreatif juga dosen di IISIP Jakarta. Meskipun Bagito (Miing, Unang, dan Didin) sangat berbakat dalam mengolah lawakan, ini tidak berarti Bagito begitu saja pentas dan naik ke panggung. Hal ini diakui oleh Didin sendiri, “kita memerlukan pemikiran banyak unutk itu. Kita capek, kalau kita saja yang berpikir. Makanya kita memerlukan pekerja kreatif yang tidak saja ikut menyumbang ide-ide, melainkan juga terlibat banyak dalam setiap produksi.”

Dengan tuntutan seperti itu, tim kreatif di Bagito pun harus punya banyak keahlian. Misalnya merencanakan tema, menyiapkan naskah, pengatur laku selama latihan, sampai ke survey lokasi di mana Bagito akan pentas. Artinya, Bagito tidak lagi dipusingkan untuk berpikir tentang tema lawakan, kostum, rias, maupun setting lawakan mereka. Dan salah satu contohnya adalah acara BaSho yang dulu mengirim tawa ke hadapan pemirsa RCTI tiap Senin malam.

“Setidaknya, diperlukan latihan sampai tiga kali untuk mengolah naskah lawakan ini agar benar-benar ‘gerr’ di hadapan pemirsa,” jelas Dedet lagi mengenai proses BaSho. Latihan pertama adalah pemahaman naskah atau reading. Lalu, blocking, untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang pas dalam perpindahan posisi bergerak. Dan terakhir adalah berimprovisasi. Pada tahap akhir ini naskah dieksplorasi lagi untuk menentukan nilai dramatik maupun kata kunci yang pas di akhir adegan.

Untuk mendukung Bagito, Dedet tidak sendirian. Ada pekerja kreatif lainnya, seperti Dibah Chasyim, lulusan Diploma Sastra Cina di UI. Selain itu, masih ada juga dukungan dari tim lain yang mengurus masalah kostum, setting, rias, dan property.

Setiap usai pentas, ada dokumentasi untuk setiap materi produksi mereka. Misalnya, kostum, foto maupun naskah yang diatur sedemikian rupa sehingga suatu saat jika diperlukan kembali dapat mudah mencarinya. Hal ini juga diperlukan untuk menghindari pengulangan tema yang pernah di pentaskan. Dengan segudang aktivitas seperti itu, tidak mengherankan jika kantor mereka yang berada di lantai dua Pusat Pertokoan Pondok Labu ini harus dilengkapi beberapa unit komputer, runag kostum, dokumentasi naskah, maupun foto tiap-tiap prosduksi yang diframe dan dipasang memenuhi dinding.

Seperti juga Bagito, kelompok Patrio (Parto, Ekri dan Eko), yang dapat kita saksikan di layar TPI tiap Minggu malam dalam acara Ngelaba, juga memiliki tim kreatif  yang memiliki fungsi kurang lebh sama. Perbedaan yang ada mungkin hanya pada sistem latihannya saja. Patrio sama sekali menghindari scenario. Mereka mengandalkan semacam penuntun cerita (story guide), yang menuntun mereka untuk tetap dijalur cerita. Dalam penuntun cerita ini juga dirinci mengenai setting maupun pendukung artistik lainnya yang akan membantu mereka dalam latihan. “Sebelum pengambilan gambar, biasanya diadakan latihan kasar atau semacam try out,” kata Faisal, salah satu kreatif di Patrio yang lulusan Bahasa Inggris IKIP Muhammadiyah Jakarta ini. “Hal ini untuk menghindari kesalahan sekaligus mengungat kembali jalan cerita. Soalnya, pada saat pengambilan gambar kelak, kamera terus berjalan (running) dan tidak cut to cut maupun pengulangan seperti dalam adegan sinetron,” tambah Faisal di Posko Patrio, Jl. Asem Baris Raya, Tebet.

Selain berdasarkan peristiwa-peristiwa actual, Faisal bersama beberapa teman sesama tim kreatif, memilih tema apasaja asalkan punya nilai cerita. Cerita tersebut dapat pula diambil dari ngobrol-ngobrol dan kejadian keseharian yang dikembangkan menajdi ide cerita.

Baik Patrio, maupun Bagito, sama-sama mengakui pentingnya dukungan tim kreatif. Tetapi bakat mereka pun tentunya tidak bisa diabai begitu saja. Pengalaman dan proses berkesenian mereka bertahun-tahun inilah yang akan menjadi bukti keberadaannya. Kemampuan improvisasi dan spontanitas yang memancing tawa, tidak dapat dituis dalam bentuk naskah apapun, bahkan oleh tim kreatif.

 

Leave a Reply

Close Menu