benda-benda seni penghangat kota

benda-benda seni penghangat kota

2001_Maret_Edisi 122_jelajah:
benda-benda seni penghangat kota
j. Ullis Lekso
salju

salju1

salju2
Saat itu musim dingin. Salju putih di sekujur kota telah menyambut kedatanganku ke kota Passau, Jerman. Dari kota inilah, perjalanan ke beberapa kota di Jerman bermula. Dan benda-benda seni yang tergeletak di ruang-ruang kota telah begitu menarik perhatian. Untuk benda-benda itulah, kameraku dibidikkan.

Jerman tidaklah seperti yang kubayangkan semula. Dalam benakku, negeri dengan teknologi begitu canggih ini, akan membentuk kota-kota bergaya milenium dengan barisan bangunan yang mampu mengalienasi warganya. Sebaliknya, tata ruang kotanya masih menyisakan peninggalan masa lalu dan benda-benda seni publik itu mampu menghangatkan warga yang begitu menderita di musim salju. Dinginnya udara telah menyebabkan setiap orang ingin berjalan cepat dan cepat hingga tujuan, jas-jas hujan hitam dan abu-abu yang berkeliaran di jalan-jalan sungguh bukan fesyen yang menarik perhatian mata. Mereka tak peduli lagi dengan sekeiling, apalagi untuk tersenyum. Bagi orang Indonesia yang senyum begitu obral, tentunya akan merasa terasing. Tetapi sekali lagi, benda-benda seni yang kutemui di setiap taman, di sudut-sudut kota, tak hanya menjadi penghias, tetapi memanusiawikan sebuah kota.

Seluruh fasilitas umum di kota nampaknya digarap dengan begitu artistik, Di Mundter, saya tertarik dengan gorong-gorong kota yang meskipun hanya sebuah bagian dari fasilitas kota, tetap digarap dengan serius, terbuat dari besi-besi yang kuat dan diatasnya diukir relief simbol kota. Juga tak kalah menarik adalah kota Berlin yang memang lebih kotor dan banyak gedung-gedung rusak yang tak diperbaiki. Namun tangan-tangan manusia yang mengotorinya justru membuat Berlin lebih manusiawi. Bicara soal Berlin, tak lengkap rasanya tanpa mengungkit tembok panjangnya yang bersejarah itu. Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Barat, pada tahun 1989 telah berhasil diruntuhkan serta menyatukan kedu bagian Jerman tersebut. Dan kini beberapa sisi temboknya memang sengaja diperuntukkan bagi mural-mural karya seniman dari berbagai belahan dunia. Sisi tembok Berlin itu disebut East Side Gallery, di mana karya mural yang sudah lapuk termakan alam dapat diganti dengan mural terbaru. Nampaknya Berlin memang menjadi gudangnya kesenian di Jerman. Begitu banyak patung bertebaran, seperti patung perempuan yang nampak sedih si sebuah taman.

Memasuki kota Aachen, katedralnya yang didirikan sejak tahun 700-an masehi telah menjadi maskot kota tersebut. Yang menarik adalah sebuah patung terbuat dari gelas. Patung tersebut merupakan persembahan umat kristiani Aachen terhadap sinagoga, rumah ibadat Yahudi yang terletak persis di depan patung tersebut.

Sementara para praktisi seni jalanan melakukan pertunjukan di sepanjang trotoar kota Munchen, misalnya ada seorang pria yang berlagak seperti robot dengan mengeluarkan bunyi-bunyian dari suaranya sendiri. Ternyata aksi trotoar juga terjadi di kota Bremen. Tiba-tiba ada segerombolan patung binatang keledai, anjing, kucing, dan ayam. Tentunya ini bukan aksi hidup, tetapi menjadi benda diam yang mengingatkan masyarakat akan fabel kota Bremen. Ceritanya ada satu keledai tua yang akan dibunuh oleh pemiliknya. Lalu ia memutuskan pergi ke Bremmen menjadi pengamen. Dalam perjalananya si keledai bertemu anjing, kucing dan ayam jantan yang punya nasib sama. Mereka berempat pergi ke Bremmen. Nah dalam perjalanan mereka menemui satu rumah. Perut yang lapar menyebabkan mereka hendak mampir ke rumah itu, dari jendela ternyata ada sekawanan perampok dalam rumah yang ingin mencuri. Semua ingin melihat lewat jendela itu, akhirnya anjing mendaki ke punggung keledai, kucing ke punggung anjing, dan ayam jantan ke punggung kucing. Mulailah mereka menyanyi bersama mengejutkan sang perampok sehingga mereka lari meninggalkan rumah tersebut. Inilah fabel terkenal dari kota Bremen yang diabadikan dalam bentuk patung unik di trotoar jalannya.

Dari kota ke kota yang kuhampiri….benda-benda itu selalu hadir di ruang-ruangnya. Tak bedanya seperti rambu-rambu fasilitas kota. Kesatuan kota menjadi sebuah ruang artistik, yang menjadi penghangat kota di musim dingin, dan memeriahkan kota di saat musim panas.

Leave a Reply

Close Menu