Bemo masuk Galeri

Jumlahnya 37 orang anak, dengan usia yang beragam. Sendy dan Riski berusia 13 tahun, sementara ada juga yang masih kecil – mungkin 4 tahun – seusia TK. Minggu 4 Maret 2012 lalu, mereka ‘menyerbu’  Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) naik Bemo bersama beberapa orang ibu, dan empat pengemudi Bemo. Anak-anak itu mungkin adalah anak, cucu, keponakan, atau tetangga dari pengemudi Bemo. Rombongan ini adalah warga daerah Karet-Bivak, di samping Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Kecamatan Tanah Abang. Pemimpin iring-iringan Bemo ini adalah pak Kinong, yang akrab disapa anak-anak itu sebagai Ayah Kinong. Siang itu, di Galeri dimana berlangsung Pameran foto dan grafis PANC?SILA, langsung berubah ceria dan hangat dengan celoteh anak-anak.

Nonton dan Menggambar Bersama

Kehadiran mereka tak lepas dari keberadaan sebuah Bemo yang dipamerkan di Galeri tersebut untuk memeriahkan pameran fotografis Panc?sila. Bemo yang konon akan digusur merupakan cermin dari  tersingkirnya masyarakat miskin kota yang pasrah. Bemo itu memang berasal, dibeli dan dibenahi, di daerah Karet Bivak situ. Di kaca depan bemo tersebut tertulis nama: Dewi Anjar, panggilan sayang Bemo itu. Di samping bemo tertera sticker: Hivos, Grafisosial, Berbeda Merdeka 100%, dan Aikon. Organisasi yang disebut terakhir adalah perintis dari proyek ini. Sedangkan di moncong bemo tertera gambar tempel patungan.net. Bemo ini merupakan bagian dari Program Revitalisasi Bemo, yang melingkupi percobaan aplikasi Internet Keliling (Netling) dan media penyebaran informasi situs patungan.net.

Begitu datang anak-anak itu langsung duduk di tangga Galeri Antara, menghadap Dewi Anjar. Di dekatnya terpasang sebuah laptop dan proyector LCD, siap memutar film. Belum film selesai, sebagian anak-anak tersebut mulai gelisah, mereka berdiri, dan berlarian di dan sebagian lagi ke luar Galeri. Karena itu acara langsung dilanjutkan dengan menggambar bersama. Nama tiap anak dipanggil untuk kemudian dikelompokkan dalam lima kelompok, sesuai jumlah alat gambarnya. Asiklah mereka menggambar bebas – dengan syarat ada gambar Bemo di dalam gambar mereka itu.

Diskusi Nasib Bemo

Ketika anak-anak itu sibuk menggambar, para orang tua diajak ngobrol santai dengan Marco Kusumawijaya peneliti soal kota, arsitek, serta pendiri sekaligus Direktur Rujak.org – sebuah organisasi not-for-profit yang meneliti dan mendorong perbaikan kota Jakarta.

Diskusi berlangsung santai. Kinong berserta ibu-ibu warga Karet bertukar pengamatan dengan Marco, Nina, dan pengunjung lain. Mereka setuju, bahwa bemo merupakan kendaraan yang meng-akrab-kan penggunanya. Nina, salah seorang pengunjung memilih bemo sebagai alat transportasi pulang ke tempat tinggalnya di daerah Tanah Abang di malam hari. Sama dengan seorang ibu pengunjung lain, menganggap bemo lebih nyaman, aman, tidak berisiko pemerkosaan, seperti yang terjadi bekalangan ini. Pengemudi bemo, biasanya sudah lama dikenal, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak, dan mudah diketahui tempat tinggalnya.

Penutup

Setelah selesai, anak-anak itu menyerahkan gambar mereka pada panitia, yang kemudian menempelkan mereka di pinggiran tangga galeri, yang selama ini dibiarkan kosong. Mungkin ini baru pertama kalinya tangga itu pakai untuk menggantung karya. Mungkin ini kali pertama pula anak-anak berpameran di Galeri Foto Jurnalistik Antara yang kondang itu. Anak-anak itu terlihat senang dan puas, ketika memandangi karya mereka dipamerkan. Waktu terasa berlangsung cepat, pukul 14.00 mereka tiba, pukul 17.00 mereka kembali menaiki keempat Bemo untuk pulang. Walau berlangsung singkat, semoga ini jadi pengalaman yang bermanfaat bagi anak-anak Karet Bivak, dan juga bagi upaya pelestarian Bemo.

Arief Adityawan S.
Enrico Halim

Leave a Reply

Close Menu