Banyak seminar, minim solusi

2001_Juni_Edisi 125_Peduli:
Banyak seminar, minim solusi
Rohman Yuliawan

Seminar mengenai pelarangan hak asasi manusia baru usai digelar. Di benak para peserta yang meninggalkan gedung pertemuan, mungkin tertanam cercah pemikiran dan harapan baru akan adanya penegakan HAM di tanah negeri. Namun esok hari, pengangkangan atas hak-hak kemanusiaan masih terus terjadi. Lantas masih bermanfaatkah biaya, pemikiran dan waktu yang dicurahkan untuk menyelenggarakan seminar atau forum sejenisnya?

Dalam seminar atau forum semacamnya, keping-keping pemikiran satu demi satu dicobakan untuk melengkapi mozaik besar hak asasi manusia. Namun agaknya bentuk yang dicitakan tidak pernah benar-benar terwujud. Alhasil, seminar pun dituding sebagai ajang omong kosong karena hasilnya jarang berujung pada tindakan nyata. Belum lagi bila menyoal waktu, pemikiran dan biaya yang terbuang untuk penyelenggaraan seminar. Menurut salah seorang staf ELSAM, setiap tahun sekitar 15-20 acara seminar diselenggarakan lembaganya. Jika setiap gelaran setidaknya menyedot dana 5-10 juta rupiah, silahkan hitung berapa banyak dana yang sudah dikucurkan.

Lalu, untuk apa seminar?
“Seminar dimaksudkan sebagai wahana pengayaan, pasar wacana,” ungkap Mulyadi dari PUSHAM UII Yogyakarta. Karena itu dia berpendapat bahwa seminar tidak harus menawarkan penyelesaian suatu permasalahan, tapi hanya sebatas meniup-gembungkan kantung wacana HAM di tengah masyarakat. Budi Santoso, direktur LBH Yogyakarta, mengaku kerapkali menjadi nara sumber atau peserta seminar HAM, namun dia mencatat dari sekian banyak isu HAM yang diangkat hanya segelintir yang ditindaklanjuti. Meski begitu Budi Santoso beranggapan bahwa seminar tetap diperlukan untuk diseminasi nilai dan isu HAM sekaligus menggali masukan dari masyarakat luas.

“Pelatihan dan advokasi saya rasa lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat pada persoalan HAM,” lontar Indrianto dari INSIST Yogyakarta. INSIST kerap mengadakan model pelatihan dengan peserta yang tak terlalu banyak, tapi mewajibakan penggunaan waktu yang lebih panjang untuk dapat mengulik sebuah persoalan. Lembaga lainnya semisal PUSHAM UII dan ELSAM, selain mengadakan seminar atau diskusi HAM, juga menjalakan langkah serupa dengan mengadakan workshop advokasi HAM untuk umum dan mengadakan penelitian serta melakukan dokumentasi mengenai upaya penegakan HAM di tengah masyarakat.

Benang merah yang merangkai persoalan “kemudian” seminar adalah minimnya jumlah publikasi hasil seminar. Sehingga, tidak mengherankan bila timbul kesan bahwa seminar, hanya akan diikuti oleh orang yang sama untuk orang yang sama, pemikirannya “tidak pernah sampai ke masyarakat lebih luas”. Sudah waktunya para penyelenggara seminar tidak membatasi diri hanya untuk mencari tema, pembicara, dan peserta, tapi juga berusaha agar seluruh hasil pembahasan dapat diakses oleh masyarakat melalui buku, jurnal, atau bahkan melalui media audio-visual. Agar hasil seminar tidak hanya terkurung di kepengapan lemari arsip.

Leave a Reply

Close Menu