Coretan Program Bahari

Beberapa waktu lalu, bersama Toha, saya mencoba membuat coretan untuk menjawab apa yang dibutuhkan di dalam sebuah program, sehingga dapat membantu pulihnya martabat negeri ini. Kami menemukan tiga hal, yaitu: Multikultur, Quadra-Helix, dan Ekonomi Kerakyatan.

Berikut ini coretan kami dalam bentuk skema sederhana. Pada skema terkahir, saya mencoba membuat ‘turunan’ program yang akan diuji-jalankan mulai November 2017.

Sila simak dan beri masukan di bawah.

Toleransi sebagai Dasar Industri Kreatif, Demi Kehidupan yang Berkelanjutan?

Awal Industri Kreatif adalah dari peninjauan kembali atas aspek Ekonomi Kebudayaan (Cultural Economic) di suatu negara. Pada 1990-an ditemui pergeseran pasar yang mengakibatkan perpindahan lokasi produksi dan perubahan jalur distribusi. Hal ini mengakibatkan banyak lokasi industri, termasuk bangunan-bangunan pabrik dan gudang, ditinggalkan, terbengkalai, dan membutuhkan fungsi baru. Industri kreatif dianggap sebagai obat manjur untuk memperbaiki kualitas kota dan masyarakat yang cenderung menurun. Industri kreatif dimaksudkan untuk mendorong perbaikan kehidupan yang berkelanjutan di dalam masyarakat.

Industri kreatif mengandalkan kreatifitas individu untuk menghasilkan berbagai komoditi yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Di Indonesia, sebuah negara yang masih dapat dianggap belum sepenuhnya meninggalkan budaya kolonial, masih tergagap menghadapi era modern – apalagi pascamodern – industri kreatif didorong oleh pemerintah, melalui Badan Ekonomi Kreatif, – tanpa terlihat sadar tentang berbagai kekurangannya. Toleransi, sebagai satu dari beberapa sumber munculnya kreativitas, masih dianggap sebagai hal yang masih perlu diperjuangkan di Indonesia. Kontradiksi ini dapat dilihat dalam dua pengakuan yang berbeda. Dalam satu pengakuan internasional, lembaga dunia Perserikatan Bangsa-bangsa mencatat kota Bandung bersama 44 kota lain di dunia, sebagai anggota kota kreatif dunia. Di peiode waktu yang kurang lebih sama, Bandung dinobatkan sebagai kota intoleran nomor enam dari 94 kota di Indonesia, oleh Institut SETARA. Bagaimana mungkin kontradiksi ini terjadi? Sebagaimana diketahui umum, toleransi adalah satu dari banyak aspek untuk mengembangkan kreativitas.

Krisis Fordisme – metode produksi ban berjalan yang diawali oleh perusahaan mobil Ford – di mana perilaku produksi konvensional sudah tidak aplikatif dan mendorong munculnya Industri Kreatif yang dianggap sebagai sumber inovasi yang memberi solusi. Perubahan gaya hidup dari masyarakat industri menjadi publik yang memiliki banyak waktu luang (pengangguran), mendorong individual berpemikiran liberal, sekular, dan membuka berbagai konsep kreatif yang baru.

Setiap negara, wilayah, kota memiliki kebudayaan, sejarah, ekonominya masing-masing, yang mana semestinya menjadi dasar dalam menentukan kebijakan Industri Kreatif masing-masing. Harapan dalam mengadopsi Industri Kreatif di samping untuk memperoleh pendapatan ekonomi secara langsung dan perbaikan pada citra kota, adalah: menjadi diskursus penting yang dapat memperbaiki suatu wilayah secara internal, memproyeksikan berbagai kemajuan pada pihak eksternal – soft power.

Sejarah terminologi industri kreatif dimulai pada Oktober 1994 saat pemerintah Australia menerbitkan dokumen kebijakan kebudayaan berjudul Creative Nation. Munculnya dokumen tersebut mendorong Inggris membentuk komisi industri kreatif di 1997 di bawah Department of Media, Culture, and Sport (DMCS) untuk mendefinisikan Industri Kreatif versi Inggris.

Those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent which have a potential for job and wealth creation through the generation and exploitation of intellectual property.”

Definisi untuk industri kreatif ini pula yang digunakan oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.[1] Tujuan Indonesia mendorong Industri Kreatif, tertulis:

  1. Memberi kontribusi ekonomi yang signifikan,
  2. Menciptakan iklim bisnis yang positif,
  3. Membangun citra dan identitas bangsa,
  4. berbasis kepada dumber daya yang terbarukan,
  5. Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, dan
  6. Memberi dampak sosial yang positif.

Industri Kreatif di Indonesia baru mulai diusahakan dengan terbitnya Studi Industri Kreatif Indonesia 2009 keluaran Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Laporan studi itu antara lain menyatakan bahwa pendekatan Statistik Budaya UNESCO – yang digunakan di Australia, Selandia Baru, dan Kanada – tidak tepat bagi pembuat kebijakan dalam memetakan industri kreatif: “Pendekatan ini tidak akan digunakan dalam studi ini karena kecenderungannya yang dapat melahirkan kontradiksi terhadap tujuan studi, yaitu untuk mengukur kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian bangsa. Beberapa aktivitas dalam pendekatan ini, seperti cagar budaya dan lingkungan, berusaha untuk “menghilangkan” kontribusi ekonomi di dalamnya. Alasan lainnya adalah sifat kolektif dari industri budaya dan kurang mengakomodasi perkembangan industri kreatif kontemporer (h. 13).”

Dalam studi yang sama, definisi Industri Kreatif di Indonesia sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. (h. 33)

Industri kreatif tidak (atau belum) tercatat di dalam industri yang diakui negara (h. 37), sehingga untuk mengetahui besaran dampak dari industri kreatif terhadap perekonomian Indonesia, digunakan beberapa indikator utama sebagai alat ukur. Indikator‐indikator yang digunakan adalah berbasis pada: (1) Produk Domestik Bruto (PDB); (2) Ketenagakerjaan; dan (3) Aktivitas Perusahaan, serta (4) Dampak terhadap sektor‐sektor lain. (h. 35). Rata‐rata kontribusi periode 2002‐2006 sebesar 104,637 triliun rupiah atau dengan rata‐rata persentase kontribusi periode 2002‐2006 sebesar 6,28%. Secara rata‐rata kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB), Industri kreatif memberikan kontribusi lebih tinggi dari sektor: (1) pengangkutan dan komunikasi; (2) Bangunan; dan (3) listrik, gas, dan air bersih. (h. 47).

Industri kreatif ternyata tidak berhasil di kota Noosa, 130 kilometer dari kota Brisbanne, Australia tenggara. Industri yang mengandalkan kemampuan kreatif untuk mengembangkan ekonomi kota, ternyata tidak melibatkan mayoritas warga.

Creative industries turned out not to be so inclusive after all. They failed to soak up all those unemployed dirty industry workers and were reliant on educated workers willing to work their way up on low pay and high debt.[2]

Industri kreatif masih dianggap sebagai kegiatan bagi kelompok yang tidak inklusif dan hanya dapat menjawab kulit terluar dari permasalahan yang ada.

The right to the city is far more than the individual liberty to access urban resources: it is a right to change ourselves by changing the city. It is, moreover, a common rather than an individual right since this transformation inevitably depends upon the exercise of a collective power to reshape the processes of urbanization. The freedom to make and remake our cities and ourselves is, I want to argue, one of the most precious yet most neglected of our human rights.[3]

Pertanyaan yang mendasar yang perlu diajukan adalah: apakah kreativitas dapat berkontribusi dalam perkembangan keunikan lokal dan kemaslahatan warga?[4] Sebagai contoh yang lebih spesifik untuk mengkaji hal ini, kita dapat melihat kota Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Setelah pemerintah bersama komunitas kreatif di kota Bandung mengusahakan selama tidak kurang dari tiga tahun, di 2015 kota Bandung berhasil tercatat sebagai anggota dari sebuah jaringan kota kreatif dunia yang beranggotakan 44 kota dari 33 negara. Kota Bandung tercatat sebagai anggota jaringan kota kreatif dunia dalam kategori desain. Dengan keberhasilannya ini, Ridwan Kamil, walikota Bandung berharap masyarakat Bandung dapat berorientasi pada desain karena telah mendapatkan pengakuan tingkat dunia.

Ridwan Kamil berharap warganya tetap mengedepankan desain unik dalam membuat karya atau inovasi kreatif. “Artinya segala unsur kehidupan di Kota Bandung harus punya nilai tambah, disain progresif. Enggak boleh membuat sesuatu yang biasa-biasa aja. Standarnya harus kelas dunia,” bebernya.[5]

Sedikit melegakan bahwa Ridwan menyadari bahwa kondisi yang kondusif demi tumbuhnya kreatifitas adalah adanya toleransi di antara warga kotanya.

“Karena sering beraktivitas di luar, maka warga Bandung interaksi sosialnya baik. Oleh karena itu, warga Bandung tumbuh menjadi orang-orang toleran dan ramah,” jelas wali kota. Dengan cuaca yang sejuk pula, Ridwan mengungkapkan bahwa warga Bandung lebih kontemplatif. Oleh karena itu, banyak muncul gagasan-gagasan kreatif dari hasil kontemplasi tersebut. “Di sini kami mengedepankan industri kreatif. Kami tidak punya sumber daya alam. Makanya kita fokus ke sana dalam skala industri mikro, kecil, dan menengah”.[6]

Prestasi ini bertentangan dengan laporan Tolerant City Index 2015 yang diterbitkan oleh SETARA Institute, yang menyatakan bahwa kota Bandung adalah kota yang intoleran keenam setelah Bogor, Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, dan Depok. Laporan ini mengunakan tiga indikator yang didasari oleh Indonesian Democracy Index (IDI) yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional. Tiga indikator tersebut berupa peraturan dan tindakan pemerintah, serta tingkat ancaman kekerasan di suatu wilayah meneliti kondisi toleransi di 94 kota di Indonesia.

Di tingkat internasional, dalam Global Creativity Index 2015 yang diterbitkan oleh Martin Prosperity Institute,[7] Indonesia berada di urutan 115 dari 139 negara yang diteliti. Penelitian ini mengkaji tiga aspek penting suatu negara untuk dapat dianggap sebagai negara yang kreatif. Tiga aspek itu adalah: teknologi, talenta, dan toleransi. Persoalan toleransi dalam penelitian ini diperoleh dengan mengukur tingkat keterbukaan publik pada perbedaan suku dan agama minoritas, serta penerimaannya pada gay dan lesbian.

Industri kreatif memang dapat dijadikan satu di antara banyak jawaban bagi menurunnya kualitas hidup masyarakat di suatu kawasan. Richard Florida berhasil mencuatkan terminologi industri kreatif yang fenomenal itu. Banyak keberhasilan dan kegagalan dapat ditemukan dari proses berbagai negara yang mengadopsi pemikirannya. Sebuah cuplikan yang penting untuk diingat dari buku The Rise of the Creative Class yang ditulisnya:

The rise of a new economic and social order is a double-edged sword. It unleashes incredible energies, pointing the way toward new paths for unprecedented growth and prosperity, but it also causes tremendous hardships and inequality along the way” (2012: xiii).

Kita perlu memahami hal-hal yang mendasari beroperasinya industri kreatif. Toleransi antara warga negara adalah dasar penting bagi tumbuhnya kreatifitas, yang secara otomatis akan mengembangkan industrinya. Berbagai kegiatan ekonomi yang dilakukan adalah untuk kemaslahatan warga. Pengakuan dunia dan berbagai prestasi yang dapat diraih dalam industri kreatif tidak akan bermakna banyak, bila ia hanya memunculkan kesulitan dan ketidaksetaraan dalam hidup berdampingan, tidak mendorong kehidupan yang baik secara berkelanjutan.

 

 

Daftar Pustaka

 

Buku

Florida, Richard. 2012. The Rise of the Creative Class, Revisited. Basic Books, New York.

Florida, Richard; Mellander, Charlotta; dan King, Karen. 2015. The Global Creativity Index. Martin Prosperity Institute. Toronto, Canada.

Tim Studi. 2014. Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Jakarta.

Departemen Perdagangan RI. 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015.

 

Jurnal

Borén, Thomas dan Young, Craig. 2013. Getting Creative with the ‘Creative City’? Towards New Perspectives on Creativity in Urban Policy. International Journal of Urban and Regional Research. Volume 37.5.

 

Situs Internet

Rasaki, Iko. 17 Mei 2011. Di Bawah Kekuasaan Benda-Benda. https://goo.gl/YY8ULJ pada 30 Januari 2017, 12:30

Suriyanto dan Sarwanto, Abi. 16 November 2015 20:26. Setara: Tujuh Kota di Jawa Barat Intoleran. CNN Indonesia. Diunduh dari https://goo.gl/Z5sYyh pada 29 Januari 2017, 21:26.

Setara Institute. 2015. Tolerant City Index 2015. Diunduh dari https://goo.gl/27aTYC pada 29 Januari 2017, 12:59.

Tempo. 14 Desember 2015. Diunduh dari https://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/14/058727699/bandung-kota-kreatif-versi-unesco-ini-target-ridwan-kamil pada 29 Januari 2017, pukul 21.04.

Pikiran Rakyat. 22 November 2016. Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/11/22/ridwan-kamil-cuaca-sejuk-bandung-bikin-warganya-kreatif-385537 pada 29 Januari 2017, pukul 21.21.

 

[1] Sedangkan definisi Industri Kreatif bagi Amerika adalah segala macam bentuk industri yang berkaitan dengan hak cipta (copyright).

[2] O’Connor, Justin dan Andrejevic ,Mark. 12 Juni 2017. Creative City, Smart City.. Whose City is It? Diunduh dari http://theconversation.com/creative-city-smart-city-whose-city-is-it-78258

[3] Harvey, David (September–October 2008). “The right to the city”. New Left Review. New Left Review. II (53): 23–40.

[4] If ‘creativity’ could contribute to urban growth and wellbeing, paralleling efforts to promote an increased appreciation of forms of ‘vernacular’ creativity (Edensor et al., 2010a; 2010b), to use different indices to link creativity with liveability and sustainability (Lewis and Donald, 2010) or to address issues of equality.

[5] Dikutip dari https://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/14/058727699/bandung-kota-kreatif-versi-unesco-ini-target-ridwan-kamil pada 29 Januari 2017, pukul 21.04.

[6] Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/11/22/ridwan-kamil-cuaca-sejuk-bandung-bikin-warganya-kreatif-385537 pada 27 Januari 2017, pukul 21.21.

[7] Index ini merupakan hasil penelitian yang dibuat oleh Richard Florida bersama Charlotta Mellander dan Karen King atas nama lembaga Martin Prosperity Institute, Rotman School of Management, University of Toronto dimana Richard adalah satu direktur di sekolah manajemen tersebut. Richard juga seorang editor senior untuk situs The Atlantic yang fokus pada persoalan urban dan perkotaan. Richard di 2002 menerbitkan buku berjudul The Rise of the Creative Class yang digunakan oleh pemerintah di banyak negara, termasuk Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia di 2014.

Warung ‘Kopi Beneran’ di ‘Bunderan’

Hari ini ada warung kopi baru buka.

Sebut saja namanya Warung Bundaran Kemang, karena memang lokasinya di seberang utara bundaran yang ada di jalan Kemang Selatan XII, Jakarta.

Jangan berharap terlalu banyak, karena tidak ada yang ‘kekinian’ di sini, karena ini adalah warung seadanya. Obrolan sederhana dengan ditemani kopi robusta asal Lampung, kopi arabika Toraja, atau Aceh Gayo, mungkin dapat mengisi harimu sekali-kali.

Warung ini menyediakan kopi hasil giling dari biji di samping minuman bubuk produksi industri. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah nikmatilah kopi hasil tanah air sendiri, tidak harus yang mahal, apalagi sampai perlu-perlunya memaksakan diri mengonsumsi minuman instan.

Dapur kami adalah bemo berwarna jingga yang pensiun dari berkeliling di tengah padatnya jalan ibukota. Gelas-gelas enamel dan kaca yang digunakan merupakan sumbangan dari banyak pendahulu kami yang selalu ingin berbagi dengan sederhana.

Warung Bundaran Kemang mungkin akan berganti nama di masa yang akan datang. Namun biarlah untuk saat ini, kami namakan demikian. Sampai sekarang, belum jelas betul jam buka warung ini, namun bila melihat kap bemo jingga (oren, orange) di depan warung itu terbuka, maka mampirlah..

Hilangkan, gantikan, lupakan, dan bebaslah dari masalah

Sejak Juni 2017 bemo berangsur-angsur dihilangkan dari jalan-jalan di ibukota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta seperti tidak mempertimbangkan bahwa dengan menghilangkan bemo, maka ia juga menghapus sejarah yang dimiliki alat transportasi untuk menyambut perhelatan Ganefo itu, dan menghilangkan berbagai kenangan di sekitar keberadaan bemo yang dimiliki publik. Di negara ini memang publik dibiasakan untuk cepat lupa.

Dishub menganggap pihaknya telah melaksanakan tugas dengan tepat, karena telah melakukan sosialisasi dan mengeluarkan surat penertiban sebelumnya. “Sebelum penertiban, sudah digelar pertemuan dengan para pemilik. Mereka sudah sepakat direvitalisasi,” kata Kepala Dishub DKI Jakarta, Andri Yansyah, Senin, 24 Juli 2017[1]. Sebagai catatan, sosialisasi yang dilakukan, lebih banyak dihadiri oleh pihak organda dan wakil pemilik bemo yang berpihak pada penjual kendaraan pengganti.

Lepas dari dukungan dishub pada berkembangnya mentalitas pelupa, kata revitalisasi pada pernyataan kepala dinas itu pun tidak tepat, karena yang terjadi adalah penggantian bemo dengan bajaj. Bemo dihilangkan dari peta transportasi umum DKI Jakarta, karena kondisi dan keberadaannya sudah dianggap sudah tidak layak. Bemo tidak sedang di-vital-kan kembali menjadi alat transportasi kota. Bemo sekedar dihilangkan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah pernyataan dari pemerintah bahwa bemo-bemo itu digantikan oleh bajaj. “Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, bajaj yang memiliki roda empat mulai diuji coba di Jakarta. Uji coba itu dilakukan selama 3 bulan mulai 19 Juli 2017.”[2] Bila mengacu pada definisi yang tertulis di dalam undang -undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan, bemo dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor umum dalam trayek, sedangkan bajaj adalah kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek. Bagaimana satu hal dapat digantikan oleh hal lain yang berbeda dalam cara beroperasinya? Ditambah lagi, menurut undang-undang tersebut kendaraan umum beroda tiga tidak dikenal.[3]

Beberapa pertanyaan lain yang perlu dikritisi kemudian, antara lain, adalah: 1. Berapakah jumlah bajaj yang kini telah beroperasi? Apakah belum mencapai jumlah maksimumnya yang menurut Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Emmanuel di 2015 tidak boleh melebih 14,424 buah?[4] Dengan mengalihkan bemo ke bajaj, apakah tidak akan melebihi ‘kuota’ dan akan menimbulkan masalah baru? 2. Apakah publik, khususnya pemilik dan pengemudi angkutan umum, telah mengetahui tentang adanya Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan baik Nasional, Provinsi, maupun kabupaten/kota seperti yang tercantum dalam undang-undang tersebut? Mengajak partisipasi publik (secara tepat tentunya) merupakan asas yang tercantum dalam undang-undang juga bukan?

Di pihak lain, para pengemudi dan pemilik pengemudi bemo memiliki masalahnya sendiri. Mereka terbiasa (atau dibiasakan) untuk tidak berpikir panjang dan cenderung menunggu peruntungan. Mereka berharap kinerja Dishub sama dengan masa kepemimpinan gubernur-gubernur sebelumnya, yaitu ‘anget-anget tai ayam’. Tunggu beberapa minggu, bila petugas sudah lupa, bemo-bemo akan dapat bebas beroperasi lagi – tentunya dengan memberi kontribusi pada petugas dinas di lapangan.

Masalah pelupaan memang akut di negara ini. Hal ini diperparah dengan ketidaktepatan dalam penggunaan kata dan ketidakjernihan berpikir dalam mengatasi masalah. Manusia memang cenderung memperumit masalah.

 

[1] http://www.beritajakarta.id/read/47312/-dishub-rampungkan-tahap-awal-revitalisasi-bemo–#.WXw8JoXBdFU

[2] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/15564481/ada-bajaj-roda-empat-di-jalanan-jakarta-ini-kata-dishub

[3] https://beritagar.id/artikel/berita/bajaj-beroda-tiga-akan-pensiun-dari-jalanan

[4] http://jakarta.bisnis.com/read/20150106/77/388351/setelah-batasi-sepeda-motor-ahok-buat-zonasi-bajaj

Kartu Lebaran dari Jokowi

Di sela kesedihan karena banyak bemo teman-temannya yang dijaring oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pak Kinong senang sekali mendapat ucapan Lebaran dari presiden republik ini.

Pak Kinong beserta istri dan anak-anaknya kemudian menulis dan mengirimkan surat balasan lengkap dengan beberapa gambar dengan spidol.

Selamat lebaran pak Jokowi.

Terima kasih pada Harjuni Rochajati dan Arief Adityawan untuk fotonya.

Terima kasih presidenku.
Terima kasih telah memberi perhatian sederhana yang berarti besar bagi rakyat jelata.

Save

Antara Teknologi dan Kesetaraan: Studi Kasus Bemo Bertenaga Listrik

Di 2011 sebuah kelompok warga Jakarta mulai melakukan upaya revitalisasi atas keberadaan bemo (becak motor) sebagai moda transportasi kota Jakarta. Teknologi kendaraan bertenaga listrik diajukan oleh kelompok madani itu sebagai alternatif dari pelarangan bemo untuk beroperasi. Bemo bertenaga listrik (bemo gatrik)[1] merupakan solusi karena, bagi kelompok tersebut, peniadaan bemo akan ikut menekan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi warga Jakarta – bila tidak bisa disebut menghilangkan satu dari banyak akar kebudayaan kota.

Kelompok yang terdiri warga kota dari berbagai latar belakang ini beranggapan bahwa bemo perlu dilestarikan, karena memiliki sejarah yang panjang dan mengkonstruksi budaya kota Jakarta. Terlebih akibat dari kepunahannya akan lebih banyak memberi dampak buruk dari (sekedar) soal risiko peremajaan transportasi kota. Bagi sebagian warga kota Jakarta, bemo merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bemo merupakan moda transportasi murah meriah yang dapat menelusuri jalan-jalan kecil di antara perumahan, sehingga memungkinkan warga kota untuk berpindah tempat dengan efisien di dalam jarak yang terlalu jauh untuk dilakukan dengan berjalan kaki, terlalu dekat bila menggunakan kendaraan bermotor lain. Bemo merupakan kenangan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Hal lain yang sangat disayangkan bila bemo dibuat punah adalah artikulasi yang dapat timbul kemudian adalah konotasi bahwa konsumsi benda-benda baru lebih diutamakan. Benda lama dianggap tidak berguna dan perlu diganti, tanpa memperhitungkan nilai kebudayaannya. Dalam hal ini, bemo sebagai obyek yang telah ikut mengonstruksi kebudayaan kota Jakarta dianggap tidak berguna.

Becak motor itu awalnya adalah kendaraan pengangkut barang produksi pabrik Daihatsu antara 1957-1963. Oleh Presiden Soekarno bemo dijadikan kendaraan pengangkut penumpang untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta, pada Ganefo di 1963. Di 1996 Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Soerjadi Soedirdja mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang intinya melarang beroperasinya bemo di ibukota. Bemo yang beroda tiga dan bertenaga mesin 2-langkah (2-tak, berbahan bakar bensin campur oli) itu dilarang beroperasi, harus diremajakan, atau lebih tepatnya digantikan, dengan kendaraan roda empat bermesin 4-langkah (4-tak, berbahan bakar bensin).

Sejak Surat Keputusan Gubernur itu berlaku, banyak bemo yang ditangkap untuk dihancurkan. Sebagai pengganti, pengemudi bemo diberi fasilitas kredit kendaraan Angkutan Pengganti Bemo (APB) yang beroda empat. Faktor ketidaksiapan birokrasi dan banyaknya oknum di lapangan mengakibatkan ratusan pengemudi bemo itu tidak dapat menggunakan fasilitas yang ditawarkan. Bemo-bemo yang terjaring diperjualbelikan secara tidak resmi, sehingga ratusan bemo yang terjaring itu kembali beroperasi, walau tanpa surat-surat resmi. Karena bemo menjadi sebuah kendaraan yang tidak legal, jumlah pemasok suku cadang untuk kendaraan beroda tiga itu makin lama makin berkurang, mengakibatkan suku cadang bemo pun sulit didapat. Para pengemudi bemo bergelut dalam situasi yang sulit. Selain mereka perlu bersiasat untuk menghadapi aparat hukum, mereka perlu memberdayakan kreativitas yang tinggi untuk membuat bemo-bemo mereka mampu untuk terus beroperasi demi dapat tetap menghasilkan uang untuk hidup mereka dan keluarga.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di 2012 sebuah kelompok madani warga Jakarta mendorong program revitalisasi bemo. Selain melakukan pendekatan ke pihak pemerintah, kelompok ini berpatungan dan bergotong-royong menghadirkan berbagai teknologi yang mudah, murah, dan cocok untuk diterapkan pada bemo. Harapannya, teknologi yang tepat dapat mendorong perbaikan kehidupan para pengemudi bemo. Teknologi diharapkan dapat menghadirkan kesetaraan.

Berbagai eksperimen dilakukan yang utamanya adalah untuk menjawab permasalahan inti, yaitu agar bemo tidak mengakibatkan polusi suara dan udara. Mulai dari eksperimentasi menggunakan gas hidrogen yang disalurkan ke karburator untuk menekan gas buang, sampai akhirnya berhasil membangun sebuah bemo bertenaga listrik (bemo gatrik) berbadan serat kaca (fiberglass). Usaha patungan dan gotong-royong sebagian kecil warga Jakarta itu banyak membantu dalam proses eksperimentasi, sehingga bemo gatrik dapat meluncur ke Balai Kota untuk mengajukan sebuah alternatif transportasi kota yang bebas polusi udara dan suara di Februari 2013.

Teknologi motor listrik (Brushless Direct Curent motor) dan baterai jenis Solid Lead Acid (SLA) yang digunakan untuk menggerakkan purwarupa (prototype) bemo gatrik mampu mengangkut beban jarak pendek, sesuai dengan kebutuhan para pengemudi bemo. Teknologi motor tanpa sikat itu meminimalisir adanya kebutuhan perawatan berbiaya tinggi, seperti penggantian pelumas secara berkala. Baterai SLA merupakan wadah penyimpan energi listrik yang paling minimal untuk suatu aplikasi kendaraan listrik. Masa operasinya cenderung panjang, yaitu dapat mencapai dua tahun. Saat uji coba untuk menarik penumpang, bemo gatrik mampu menempuh sekurang-kurangnya jarak 15 kilometer dengan beban enam penumpang di belakang dan satu di depan, sebelum kemudian perlu dilakukan pengisian baterai (charging) selama enam jam. Kemampuan ini dianggap dapat menjawab kebutuhan para pengemudi bemo yang mengangkut penumpang empat sampai lima rit di pagi hari pukul 6-9 dan di sore hari pukul 16-19.

Teknologi yang diaplikasikan pada sebuah purwarupa bemo gatrik itu diharapkan dapat sedikit banyak meningkatkan posisi tawar para pengemudi bemo di mata birokrasi pemerintah, sehingga negosiasi dapat terjadi secara setara. Berbagai usaha dilakukan untuk menghadirkan teknologi yang dapat dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada produsen skala industri, namun ternyata tidak mendapat tanggapan yang setara dari pihak pemerintah. Para pengemudi bemo tetap dihadapkan pada pelarangan yang tercantum di dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 1996.

Imajinasi, inspirasi, dan inovasi melalui teknologi tenaga listrik pada bemo gatrik ternyata memperlihatkan tidak majunyanya cara pikir aparat negara. Hal ini dapat disimpulkan, bila tidak ingin berasumsi bahwa teknologi kendaraan listrik akan menggeser, mengecilkan, sehingga menurunkan pendapatan pabrik kendaraan bertenaga bahan bakar minyak – fosil. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Edward Tenner dalam bukunya Why Things Bite Back, bahwa pada setiap langkah maju di dunia teknologi, bersamanya akan membawa kemunduran satu langkah yang tidak terduga.[2] Dari studi kasus program revitalisasi bemo gatrik di Jakarta, kita dapat melihat bahwa kehadiran teknologi tidak selalu menghadirkan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan dalam berkehidupan perlu didampingi adanya pemikiran kritis dan niat progresif dari setiap pihak yang terlibat dalamnya.

 

[1] Program Revitalisasi ini dapat diketahui lebih lanjut melalui situs aikon.org.

[2]A step forward in technology tends to bring with it an unexpected step backward. A step forward for some people frequently brings with it a step backward for others.” Dikutip dari tulisan Profesor Freeman Dyson berjudul Technology and Social Justice di dalam kuliah umum Nizer 1998. Freeman Dyson adalah akademisi di Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey. Di unduh dari tulisan situs Carnegie Council November 25, 1997. https://www.carnegiecouncil.org/publications/archive/nizer_lectures/004 pada 21 Juni 2017, pukul 09:35.

Kirim Buku Gratis

Kabar gembira dari Pustaka Bergerak.

Setiap tanggal 17 Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku ke seluruh wilayah Indonesia.

Syarat pengiriman buku: berat paket maksimal 10 kg, dan paket mencantumkan kata “BERGERAK”.

Mohon kawan-kawan yang punya buku (bekas pun tak apa) meluangkan waktu ke kantor pos terdekat pas 17 Juni nanti, dan kirim buku ke kawan-kawan relawan.

Berikut ini alamat jaringan relawan Pustaka Bergerak. Sila pilih yang dianggap sesuai. Disarankan untuk kirim buku ke wilayah perbatasan atau kepulauan dan daerah terpencil lainnya.

Terima kasih banyak.

Salam Pustaka Bergerak

Save

Save

Garis-garis di dalam Galeri

Rifky Effendy, atau yang dikenal dengan panggilan Goro, dulunya adalah seorang pembuat keramik di studio Bata Merah, kini adalah satu dari dua kurator pameran Amok Tanah Jawa yang akan dibuka di Langgeng Art Foundation di sore hari itu. Ia melambaikan tangannya menyambut kedatangan saya. Sambil tetap berdiri di samping meja penerimaan dan menyodorkan tangan untuk memberi salam, ia mengarahkan saya untuk melihat pameran di lantai bawah, mengingat masih ada sedikit waktu sebelum pameran karya seniman Moelyono yang ia kurasi itu, dibuka.

Di lantai bawah sedang diselenggarakan pameran berjudul Labirin, karya dua perupa muda lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Rega Ayundya dan Kara Andarini yang kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka memamerkan karya-karya yang dibuat dengan media spidol di atas akrilik dan bolpoin di atas kertas. Satu di antara banyak karya yang dipamerkan di ruang berlantai semen tanpa pendingin udara itu, adalah karya Kara berjudul Stacked Space #4.

Kara Andarini
Stacked Space #4
2017
Bolpoin di atas kertas Montval 300 gsm
95 x 180 cm

Kara membuat banyak sekali bentuk garis secara berulang. Garis tipis, garis tebal, arsiran, dan titik yang dibuat agak tebal. Coretan warna hitam dari bolpen itu dibuat berulang dan merupakan kombinasi antara garis tegas dan halus, kadang vertikal, kadang horizontal, dan diagonal. Selintas karya ini terlihat sebagai gambar sederhana (sketch) dari kotak-kotak tidak beraturan yang saling bertumpuk. Berkesan abstrak, tidak sedang menyampaikan pesan yang kongkrit.

Setelah memandanginya lebih lama, saya mulai melihat garis-garis itu membentuk bidang-bidang datar: ruang, atap, dinding, jendela, dan pintu. Ada rumah dengan antena kawat di sebelah bidang putih yang di atasnya muncul garis yang mirip bulan sabit. Atap-atap miring di atas sebuah selasar yang menaungi sebuah pelataran yang berada tepat di pinggir jurang, dapat terlihat di satu bagian. Di bagian lain, agak di tengah, muncul bayangan hitam dari sesuatu yang organik, atau mungkin itu adalah kumpulan beberapa pohon cemara yang tumbuh liar dan tidak terawat. Seutas kawat besi terlihat membentang dari satu tiang bambu ke tiang lain yang agak melengkung, kemudian membelok ke tiang lain yang berada di samping dinding bangunan bertangga terjal. Selain terdapat warung-warung yang berwujud hampir kubus dan beratap seng yang ada di mana-mana, saya juga dapat menemukan toilet terbuka yang dibuat agak terpisah dari daratan, menjorok ke sungai. Bagi saya, karya ini berbicara tentang kampung susun yang sangat dinamis dan artistik.

Stacked Space #4 bisa jadi merupakan sebuah karya yang menggambarkan sebuah kampung susun yang kosong, sepi, tanpa penduduk, tanpa kehidupan. Namun setiap kali fokus mata saya berpindah, garis-garis itu seperti sedang menari bersuka ria, saling terhubung, bergetar, bermain, dan menyampaikan pesan-pesan yang sederhana – terasa kampung susun itu tidak sepi, walau tanpa penghuni. Karya ini telah memenuhi berbagai aspek formal yang perlu dipenuhi untuk dapat dianggap sebagai sebuah karya seni. Ia memiliki tegangan ekspresi maksimal, seperti yang saya rasakan saat melihat garis-garis coretan pensil dan cat minyak di atas kardus yang dibuat Joan Miró secara hati-hati atau pada gambar-gambar cepat Gustav Klimt, yang mana lukisannya kemudian berhasil menyandingkan garis-garis dan bidang-bidang geometris dengan garis dan bidang organik yang mengekspresikan emosi secara maksimal. Agak berlebihan? Mungkin.

Garis-garis pada Stacked Space #4 ini memenuhi selembar kertas yang tingginya melebihi tinggi tubuh si seniman. Entah bagaimana ia mengumpulkan energi yang demikian besar untuk dapat menghasilkan garis-garis dengan ketebalan dan gelap tinta yang konsisten. Format karya Kara yang menggunakan kertas berpotongan vertikal sebagai medium penerima ini mengingatkan saya pada lukisan gulung lansekap Dinasti Han dan dinasti sebelumnya. Obyek yang terdekat berada di bagian bawah, berurut ke atas, di mana gambar di puncak adalah obyek terjauh, yang tetap digambarkan dengan ukuran sama dengan obyek terdekat. Saya selalu menemukan hal baru ketika menggeser pandangan mengikuti garis-garis hitam itu.

Mungkin Kara adalah seorang anomali dari Generasi Milenial – generasi yang lekat dengan berbagai aplikasi teknologi dijital sejak lahir. Ia seorang anomali karena karya yang dihasilkannya tidak menunjukkan kegagapan dalam menggambarkan sebuah situasi yang sangat relevan pada saat ini. Sebuah karya yang gagap hanya dapat terjadi bila seorang seniman memaksakan diri untuk dapat menghasilkan suatu karya yang sebenarnya berjarak dari kehidupannya sehari-hari. Garis-garis pada Stacked Space #4 terlihat alamiah, tidak dipaksakan, dan seakan memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Pengamatan yang sangat dekat pada obyek dapat dipastikan terjadi sebelum si seniman mulai menggoreskan bolpen itu di atas kertas yang pasti telah dipilihnya dengan pertimbangan yang mendalam. Lepas dari karya yang sudah baik, sangat disayangkan adanya persoalan generasi milenial Indonesia yang sangat dekat dengan pengaruh budaya asing, khususnya Amerika, yang muncul dengan jelas. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa Inggris sebagai judul karya dan penulisan sinopsis berbahasa Indonesia, yang kualitasnya tidak sebanding dengan dalamnya makna-makna yang dapat diangkat dari karya-karya yang dipamerkan.

Tiba-tiba suara Goro terdengar dari atas lubang tangga, tanda bahwa acara pembukaan pameran di atas, akan segera dimulai. Saya bergegas menuju tangga dan naik. Arahannya untuk saya melihat pameran di lantai bawah adalah ide yang baik. Saya sungguh beruntung, tidak melewatkan karya baik dari seniman muda yang mungkin akan makin menjadi nantinya.

Save

Save

Jawilan Hari Raya Seni

Acara pembukaan perhelatan ArtJog 10 itu terkesan biasa saja. Sebuah performance art yang diselenggarakan sehabis magrib dengan latarbelakang gedung putih Museum Nasional Yogyakarta. Pementasan itu diiringi gesekan biola, dan petikan harpa. Karya instalasi berjudul Floating Eyes karya Wedhar Riyadi, berupa tumpukan bola-bola mata berukuran besar dan berwarna warni, berdiri tinggi di beberapa kolam di sekitar pementasan. Changing Perspective yang menjadi tema ArtJog 10 itu terasa hampa. Changing Perspektif? Perspektif apakah yang berubah? Tema ini tidak tersampaikan dengan jelas oleh pementasan dalam acara pembukaan, maupun lewat karya-karya yang dihadirkan di malam itu. Mungkin kejelasan itu perlu menunggu sampai saya dapat membaca tulisan kurator pada dinding di depan pintu. Yang membuat perhelatan ArtJog ini menarik adalah bahwa saya dapat merasakan kembali mengembangnya semangat egalitarian di sebuah kota feodal itu – khususnya di dunia seni, rasa yang sama dapat saya rasakan saat penyelenggaraan Biennale Jogja ke-10 di 2009. Lebih dari 70 pameran dan pagelaran seni diadakan pada kurun waktu yang lebih kurang sama dengan penyelenggaraan ArtJog10. Tidak hanya galeri dan cafe, tembok-tembok kota pun ikut dijadikan medium berekspresi.

Dari obrolan singkat malam itu dengan Enin Supriyanto, kurator senirupa, hanya kota Yogyakarta lah yang mampu menyelenggarakan perhelatan semacam ArtJog. Secara format, ArtJog berada di antara pasar seni dan Biennale, (kegiatan seni dua tahunan). Yogyakarta menurutnya adalah kota yang memungkinkan untuk diselenggarakannya kegiatan seperti ini, karena adanya kebiasaan komunal seni khas Yogyakarta yaitu jawilan. Teknik jawilan, colekan, atau towelan, merupakan kebiasaan masyarakat Yogya untuk bergotong-royong membangun dan/atau melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama. Jawilan sulit untuk dilakukandi antara warga di kota lain di dunia yang tidak memiliki budaya egaliter yang saling membantu, saling mendukung. Jawilan merupakan gaya informal khas warga Yogyakarta dalam mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Di kalangan seni Yogya, jawilan sering dilakukan dengan menyelipkannya di antara humor – sebagai ajakan untuk bergotong-royong.

Adalah sebuah paradoks di mana Yogyakarta yang merupakan suatu wilayah di Indonesia dengan budaya feodal yang kental, secara bersamaan dapat memiliki semangat egalitarian yang kuat. Menurut Enin, asal mula paradoks ini dapat dirunut ke masa beberapa tahun setelah republik ini berdiri. Di awal tahun 1946, Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia dinilai tidak aman. Terdapat banyak razia, penjarahan, agresi oleh tentara Belanda di perbatasan Jakarta. Mengetahui hal itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam mengirimkan surat (atau ‘menjawil’) kepada Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, menawarkan solusi untuk memindahkan pusat pemerintahan republik ke Yogyakarta untuk sementara waktu. Dua pimpinan kerajaan yang memiliki tata pemerintahan dan kapital yang lebih baik dari pada di Jakarta pada saat itu, membuka diri, ‘menurunkan gengsi’, demi keselamatan republik, demi keselamatan rakyat Indonesia. Hal ini memberi dampak besar bagi rakyat Yogyakarta. Di waktu itu pula Hendra Gunawan, Afandi, S. Sudjojono, dan banyak perupa lain yang sebelumnya tinggal di Jakarta, ikut pindah ke Yogyakarta. Selain banyak membuat poster-poster penyemangat dan lukisan bertema perjuangan, para seniman ini mendirikan sanggar-sanggar seni untuk dapat berbagi banyak ilmu seni di antara mereka. Pada saat ibukota sudah kembali ke Jakarta, Soekarno tidak lupa akan kontribusi para seniman di Yogyakarta dan meminta para seniman untuk mendirikan sekolah, tidak hanya sanggar. Maka muncullah sekolah seni pertama di Indonesia, yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia.

Heri Pemad, yang sepuluh tahun lalu adalah kurir pengirim undangan pameran, kini dikenal sebagai penggagas serta pemimpin penyelenggaraan ArtJog. Ia juga melakukan banyak jawilan untuk memulai perhelatan internasional itu. Sebagai contoh, di tahun lalu, tempat penyelenggaraan yang telah menjadi langganan lokasi penyelenggaraan ArtJog selama delapan tahun, dinyatakan tertutup untuk penyelenggaraan ArtJog 9. Untuk mengatasi masalah itu, Pemad ‘menjawil’ temannya yang pada waktu itu sudah memiliki izin untuk berpameran di Museum Nasional Yogyakarta. Pemad meminta agar temannya itu membolehkan ArtJog 9 untuk menggantikan pamerannya. Jawilan Pemad memang ‘bernuansa agak lain’, yaitu dengan sedikit ‘menekan’, untuk menyerahkan hak berpameran teman demi perhelatan ArtJog. ‘Jawilan’ itu pun berhasil. Selanjutnya ArtJog mulai diadakan di Museum Nasional Yogyakarta, seperti halnya di mana ArtJog 10 digelar saat ini.

Teknik ‘jawilan’ pun dikembangkan dalam ArtJog 10. Pemad dan kawan-kawan penyelenggara ArtJog mendorong adanya Yogya Art Weeks (YAW). Menurut Pemad, YAW merupakan wujud kesadaran dirinya dalam melihat ArtJog yang tidak mungkin dapat berdiri sendiri, tanpa adanya dukungan dari banyak galeri yang membuka pintu-pintu mereka untuk juga menggelar pameran seni di tempat mereka masing-masing. Pemad ‘menjawil’ rekan-rekan di dunia seni untuk ikut memeriahkan kota Yogyakarta dengan berbagai bentuk seni, sehingga para pengunjung ArtJog tidak hanya melihat karya-karya dalam jumlah terbatas yang ada di Museum Nasional Yogyakarta, namun juga dapat melihat karya-karya yang baru dan segar dari para seniman yang ditampilkan di banyak galeri di Yogyakarta. Pada saat ArtJog 10 digelar, terdapat lebih dari 70 galeri yang juga menggelar berbagai perhelatan seni. Wisatawan lokal dan mancanegara pun banyak terlihat singgah keluar masuk dari galeri ke galeri.

Dengan hanya berjalan kaki ke Selatan, sekitar jalan Suryodiningratan dan jalan Tirtodipuran, saya dapat menikmati banyak titik lokasi yang ‘berkesenian’. Langgeng Art Foundation, sebuah galeri yang sedang menggelar pameran Amok Tanah Jawa karya seniman Mulyono dan pameran berjudul Labirin di ruang bawahnya, karya-karya ilustrasi berbingkai kayu di Kedai Kebun, kemudian ada tempat seperti Krack! Printmaking Studio and Gallery, Ark Gallery, Mess 56, dan juga banyak seni jalanan – mural – yang muncul secara ekspresif di tembok-tembok sepanjang jalan. Tak ketinggalan di sepanjang jalan desa di daerah Nitiprayan, terlihat ratusan bendera berwarna-warni digantung dengan tali di antara pepohonan. Visual sederhana yang menambah suasana desa menjadi meriah tanpa perlu hingar bingar – hanya terdengar kepakan kain tertiup angin.

Kurang lebih tiga kilometer ke arah Barat Daya Museum Nasional Yogyakarta, di daerah Nitiprayan, perhelatan dari hasil jawilan yang lebih merakyat dilakukan oleh Samuel Indratma, Putu Sutawijaya dan teman-temannya. Sangkring Art Space yang didirikan sepuluh tahun lalu itu menyelenggarakan Yogya Annual Art untuk kedua kalinya di 2017 ini. Tiga ruang pamernya, Sangkring Art Space, Sangkring Art Project, dan Bale Banjar, terisi berbagai karya seni dari beragam ‘genre’. Karya-karya seniman muda yang ditampilkan, tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan karya-karya sedang dipamerkan di Artjog 10. Suasana di sini lebih santai, merakyat. Siapa pun dapat masuk ke ruang pamer, tanpa ada keharusan untuk menitipkan tas, untuk menikmati karya seni.

Jawilan telah kembali menjadi teknik yang ampuh di dalam budaya populer kota Yogyakarta untuk mengembangkan diri, khususnya dalam bidang seni. Saya teringat dengan penyelenggaraan Biennale Jogja X di 2009. Waktu itu perhelatan seni dua tahunan bergengsi itu terasa sedang mengembalikan ‘roh’nya menjadi kegiatan seni untuk dan bersama rakyat. Waktu itu, berbagai karya seni muncul di berbagai sudut kota Yogyakarta. Apakah itu senirupa, seni musik, performance art, dan lain-lain tidak lagi kentara kategorisasinya, masyarakat terlibat, berpatungan, dan bersama mengusung berbagai kegiatan dengan gembira. Sebuah perhelatan dengan semangat seni kerakyatan – kurang lebih seperti semangat yang didorong S Sudjojono dengan seni rupa kerakyatannya di 1946.

Kota Yogyakarta di Mei 2017 seperti sedang melaksanakan perayaan seni secara ‘los-stang’ – perayaan yang cenderung terlihat tidak ada yang mengkoordinir, namun seperti ada ‘jiwa’ yang membuat antara satu dan yang lain seperti terhubung – merayakan seni. Saya tidak melihat adanya cara lihat baru Changing Perspective, seperti yang menjadi tema perhelatan. Yang behasil saya lihat kembali adalah teknik jawilan yang telah berhasil menjadi medium produktif di Yogyakarta. Semoga teknik jawilan dapat semakin mendorong munculnya hari raya seni di masa mendatang. Sebuah hari raya seni untuk dan oleh rakyat yang berkesenian.

Gejala Universal yang Indah

Sebuah kritik sosial dalam bentuk karya seni rupa dipaparkan dengan sangat baik oleh Setu Legi dan kawan-kawan melalui karya berjudul Universal Syndrome. Bagi saya, karya ini secara jelas menggambarkan situasi masa kini, di mana kelembutan alam semesta secara nyata berdampingan dengan berbagai perusakan yang dibuat oleh manusia dengan alasan membangun kehidupan. Ini bukan soal gejala universal. Karya ini bercerita tentang fakta yang terjadi saat ini.

Karya Setu Legi ditempatkan pada sebuah ruang yang luasnya kurang lebih sama dengan ruang-ruang pamer lainnya di dalam ArtJog 10 – yaitu sekitar 4 x 8 meter. Situasi sesak dan sempit segera terasakan ketika memasuki ruangan itu. Keempat dindingnya adalah ‘kanvas’ bagi mural yang menggunakan tanah liat sebagai media lukisnya. Mural yang menggambarkan proses pembangunan, antrian kendaraan, asap, gedung, yang berdampingan dengan ratusan manusia berwajah datar itu mengelilingi sebuah tiang besi berbentuk batang pohon yang menembus payung kain batik yang berlubang di tengahnya. Di beberapa titik di depan mural terdapat beberapa rangkaian batang-batang besi yang diletakkan di atas kantung semen dan karung. Rangkaian batang-batang besi itu masih kosong, belum terisi semen, belum menjadi tiang-tiang beton yang akan menopang sebuah konstruksi.

Melihat dari bawah, payung berkain tipis yang terbuka lebar itu hampir menutupi langit-langit ruangan. Kesan sesak tadi menjadi sedikit terobati oleh keindahan visual berteknik batik yang muncul dari adanya sorotan cahaya lampu di atasnya. Siluet dari sebuah bintang besar mendominasi bagian tengah payung. Gambar itu diisi oleh garis-garis berwarna coklat tua dan muda, seperti yang biasa terlihat pada penampang sebuah batang pohon yang ditebang. Di sekitar siluet, warna biru muda menjadi latar belakang bagi gambar-gambar rasi bintang. Terdapat deretan teks dengan garis-garis di antara mereka, dan beberapa satelit berukuran kecil yang semuanya berwarna senada dengan kain.

Di dalam karya ini Setu dan kawan-kawan berhasil menghadirkan karya seni bernilai estetika tinggi. Setu mengolah nilai-nilai formalistik dengan sangat baik di samping memunculkan kekuatan ekspresivistik yang memadai. Nilai-nilai formalistik di dalam karya ini dapat dijumpai antara lain dalam penggunaan teknik batik pada payung dan penggunaan tanah liat pada mural, keduanya memperlihatkan kemampuan teknis yang maksimal. Payung yang luasannya dibuat hampir melingkupi keseluruhan ruang itu dapat dianggap sedang menggambarkan alam semesta. Ia ditampilkan melalui teknik batik yang mengekspresikan kelembutan mempesona. Di sekelilingnya, mural dibuat dengan menggunakan tanah coklat yang diguratkan secara kasar untuk mengekspresikan kehidupan yang serba cepat, serba instan, dan nir makna. Keseimbangan dan kuatnya dua aspek formalistik dan ekspresivistik inilah yang mendorong karya ini sehingga dapat dianggap sebagai karya seni berestetika tinggi.

Melihat karya Setu ini, saya teringat dengan karya-karya kelompok Paper Moon Puppet. Dua karya yang sangat berbeda secara formal, namun saya menangkap adanya kesamaan ekspresi dan pesan. Penggunaan warna-warna yang pucat, deformasi pada bentuk, dan garis yang cenderung tidak lurus adalah beberapa elemen teknis yang muncul pada keduanya. Kesamaan ekspresi yang dapat saya rasakan adalah adanya suasana genting dan was-was yang selalu hadir bersamaan dengan lontaran pesan-pesan yang esensial, serta adanya secuil pandangan pesimis pada usaha-usaha bernilai estetis yang sebenarnya menyenangkan untuk dieksplorasi.

Sebuah kritik sosial berupa karya seni rupa, hadir di sebuah ruang pamer ArtJog 10. Karya Setu menghadirkan realita secara elegan di hadapan banyak manusia yang memiliki kecenderungan merusak alam semesta.