Apa mengapa ‘Desain untuk Difabel’

Program Komunikasi Visual sebagai Pra-event ASEAN Paralimpik Games Solo 2011


Latar Belakang

  • Hingga saat ini tidak ada data resmi mengenai jumlah difabel di Indonesia. Hanya saja, jika mengacu pada aturan WHO, terdapat sekitar 10% jumlah difabel dari jumlah penduduk di setiap negara.
  • Walau Indonesia memiliki Undang-undang No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, namun perhatian pada publik difabel masih rendah, belum aktif diimplementasi di setiap daerah.
  • Solo mempunyai sejarah yang baik tentang rehabilitasi difabel.  Jumlah kaum difabel di wilayah Solo Raya sebanyak 63.000 jiwa, hanya 15% yang memiliki pekerjaan tetap.[1] Data lain[2] menyebutkan jumlah difabel di Kota Solo hingga tahun 2007 mencapai lebih dari 5.000 jiwa. Sebanyak 80% atau 4.000 jiwa di antaranya sudah berkeluarga. Sebanyak 60% dari 4.000 jiwa tersebut hidup di bawah garis kemiskinan.[3]
  • Paralimpik. Adalah Sir Ludwig Guttmann yang di tahun 1948, menyelenggarakan kompetisi olahraga bagi veteran perang dunia II yang mengalami cedera tulang belakang. Kompetisi itu digelarnya di Stoke Mandeville, England. Empat tahun kemudian, peserta dari Belanda bergabung, dan lahirlah gerakan internasional itu. Olimpiade untuk atlit dengan keterbatasan kemampuan diadakan pertama kali di Roma pada tahun 1960. Olimpiade tersebut sekarang disebut Paralimpik.
  • Kota Solo akan mengadakan ASEAN Paralympic Games 2011 di Bulan Desember mendatang. Dalam kegiatan ini akan dipertandingan 11 cabang olahraga seperti atletik, akuatik, bulutangkis, catur, voli duduk, renang, tennis, angkat berat dan lain-lain. 3000 atlet dan official akan berpartisipasi dalam perhelatan empat tahunan ini.

Permasalahan

  • Kemampuan publik difabel masih tidak diakui, atau dianggap tidak setara dengan publik non-difabel,
  • Paralimpik merupakan kegiatan yang dapat mendorong perhatian lebih kepada publik difabel,
  • Walau kegiatan tingkat ASEAN tersebut akan diadakan empat bulan lagi, namun sampai saat ini, belum nampak adanya semangat yang ‘dibangun’ untuk kegiatan tersebut.

Tujuan Program

  • Mendorong perhatian pada ASEAN Paralympic Games Solo 2011, melalui pemberdayaan publik dengan different abilitiy(difabel),
  • Mendukung perhatian pemerintah Kota Solo kepada publik difabel.
  • Melibatkan publik non-difabel dalam kegiatan kemanusiaan yang masih minim perhatian,
  • Menjadi ruang pembelajaran bagi banyak pihak, khususnya para pihak di bidang komunikasi visual,

Strategi

  • Memposisikan publik dengan different ability (difabel), pada tempatnya yang berkemampuan lebih dari pada yang selama ini di-stigma-kan,
  • Mendorong peran publik difabel dalam menyiarkan semangat kegiatan ASEAN Paralympic Games Solo 2011,
  • Melibatkan berbagai pihak yang memiliki perhatian pada publik difabel, khususnya lembaga-lembaga di Solo,
  • Bekerjasama dengan Walikota Solo,
  • Merancang program komunikasi visual yang terintegrasi dan tepat untuk kegiatan pra event APG 2011.

Tahapan

  • Penelitian
  • Perancangan
  • Pembuatan prototipe dan dummy,
  • Uji coba
  • Revisi dan produksi
  • Implementasi
  • Publikasi
  • Dokumentasi dan Evaluasi

Pihak-pihak yang bekerjasama

  • Joko Widodo, Walikota Solo
  • Yayasan Talenta untuk difabel, Solo
  • Rumah Blogger Indonesia, Solo
  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
  • Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara
  • Yayasan Aikon Media Publik

Program Komunikasi Visual

Kampanye paralimpik

  • Modul Netling
  • Peta digital
  • Komunitas difabel dan non difabel pemerhati

[1] Menurut Sunarman, Direktur Pusat Pengembangan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM), sejak menjadi rujukan Asia Pasifik dalam penyelenggaraan rehabilitasi difabel pada tahun 1957, Solo dikenal menjadi kota peduli difabel. Di bawah pimpinan Prof. dr Soeharso, kala itu banyak lembaga rehabilitasi difabel yang didirikan, seperti RC (yang sekarang menjadi BBRSBD), YPAT (yang sekarang menjadi YPAC), dan Rumah Sakit Orthopedi. Pada waktu itu konsep rehabilitasi difabel dilakukan secara total, mulai dari penanganan medis hingga pelatihan untuk memperoleh pekerjaan. Banyaknya panti rehabilitasi difabel yang bermunculan di Solo mengundang difabel dari luar kota berdatangan untuk mendapatkan rehabilitasi.

[1] republika

[2] Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Fokkus Difabel Soloraya, Rochmad Wahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *