antara klien & seniman

2001_Maret_Edisi 122_seni:
antara klien & seniman
Ade/Joni/Rohman

Enam puluh empat tahun silam, pelukis S. Sudjono, dengan lantangnya berpidato di saat pendirian PERSAGI, bahwa para seniman Indonesia seharusnya tidak lagi melukis panorama cantik Indonesia yang seringkali disebut mooi indie. Sebaiknya, seorang seniman harus mengekspresikan realitas paling pahit sekalipun dari bangsa ini. Namun hingga kini, toh lukisan-lukisan “mooi indie” dalam bentuknya yang berbeda tetap hidup hingga sekarang. Semangat S. Sudjono pun tidak cukup untuk menghancurkannya. Karena bagi masyarakat awam lukisan, patung, masih dianggap elemen visual untuk menghiasai rumah, hotel, bank, toko, dan lain-lain. Artinya, banyak lukisan-lukisan atau patung yang dibuat untuk kebutuhan dekorasi. Jika sebuah karya seni haruslah bebas dari kepentingan apapun selain ekspresi yang ada didalamnya, maka tentunya karya seni rupa yang diciptakan atas dasar pesanan ini tidak masuk dalam kategori seni, bahkan sebagian kalangan seniman agak mencemooh praktek penciptaan karya seni semacam ini. Hal ini disebabkan mereka ingin karyanya diakui sebagai karya seni. Perdebatan tentang hal ini seringkali terjadi, sehingga ada baiknya juga untuk melihat setiap gejala dalam seni rupa dengan lebih jernih.

Sebagai contoh kasus adalah Gianto, seorag seniman yang kerap diminta khusus oleh hotel di Yogyakarta, untuk membuat lukisan sebagai pemanis ruangan atau kamar hotel. Menurutnya dalam berekspresi seniman bisa saja berkompromi dengan kepentingan dari pihak lain diluar seniman. Baginya sah-sah saja seorang pelukis membuat karya berdasar pesanan orang lain. Menurut penuturan pelukis jebolan ASRI ini, beberapa hotel berbintang seperti Hotel Garufa, Ibis dan Santika, pernah memesan lukisan padanya. Patung dan lukisan yang dipesan suatu hotel dikerjakan oleh 12 “pelukis”. Lain yang bertugas menorehkan warna dan menyempurnakan goresan sket yang sebelumnya dikerjakan oleh Gianto. “Saya membebaskan mereka untuk menuangkan ekspresi mereka, walaupun dilakukan diatas kanvas dengan sketsa dari saya,” ungkap beliau sembari menambahkan bahwa pekerjaan kedua belas pembantunya selalu memuaskan, dalam arti gaya sapuan serta komposisi warnanya mendekati Gianto. Orang tidak mengira kalau lukisan-lukisan tersebut dikerjakan oleh dua belas pasang tangan yang berlainan.

Gianto, yang baru-baru ini mengelar pameran tunggal di salah satu hotel berbintang di Yogyakarta, mematok harga jual yang menurutnya relatif rendah, sekitar satu juta empat ratus ribu rupiah untuk tiap lukisan berukuran sedang, lengkap dengan piguranya. Melukis dalam jumlah sekian banyak, ataupun warna tertentu, tentu tak terhindarkan seiring terjadi pengulangan objek lukisan, “walaupun tidak mungkin persis sama” cetusnya. Obyek yang banyak disukai pengunjung hotel, semisal penari atau ikan, kerap muncul menjadi objek pada lukisannya yang lain. Namun, lepas dari berbagai kepentingan yang memagari ekspresinya, Gianto dengan tegas mengatakan bahwa: lukisannya”adalah karya seni, dengan alasan bahwa walaupun ada pengulangan, tapi setiap karya lukisnya tak akan pernah sama persis.
Dalm kasus Gianto jelas terlihat adanya hubungan klien sebagai pihak pemesan dan pelukis. Menurut Marco Kussumawijaya, dalam tulisannya “Ruang Publik: Dialog antara Arsitektur dengan Seni Rupa”, dikatakan bahawa seni rupa tidak perlu tergantung pada klien yang memesannya. Seni rupa memiliki kolektor, bukan pemesan. Sementara arsitektur tak mungkin diciptakan tanpa pemesan. Sementara menurut kurator Amir Sidharta, pemesanan karya seni rupa bukanlah hal tabu. Praktek ini sudah dilakukan sejak abad pertengahan, yaitu waktu gereja di Eropa mulai banyak dibangun. Gereja memesan lukisan atau patung khusus untuk mendukung karakter bangunan gereja tersebut, seperti karya Michelangelo yang berjudul “sisting capel” di Gereja Vatikan. Di Indonesia sendiri banyak perupa-perupa seperti Trubus, Soedjono, Basuki Abdullah yang kerap juga menerima pesanan lukisan berupa potret diri, misalnya saja Soedjono pernah dipesan untuk membuat 9 lukisan nude isterinya, atau potret diri orang lain. Tapi yang jelas dia tidak menerima pesanan begitu saja, banyak studi dan observasi yang ia lakukan dalam rangka melukis objeknya, dia pelajari sifat, tingkah laku, kebiasaan, kesenangan, makanannya, karakter-karakternya, dan lain-lain, yang jelas banyak hal yang perlu dipahami betul sebelum melakukan sesuatu. Sehingga lukisan itu tetap terasa rohnya dan lebih bermakna.

Nampaknya ada perbedaan sifat pesanan terhadap karya seni. Ada pesanan yang berjumlah besar (massal) sehingga mirip seperti industri kecil dimana terdapat sejumlah pekerja. Namun ada juga pesanan yang sifatnya lebih eksklusif, hanya satu dan diciptakan oleh seorang seniman yang reputasinya sudah dikenal masyarakat. Seperti menurut pendapat Danarto, karya patung Nyoman Nuarta di perumahan Bekasi sangat bagus, sehingga dikotomi karya seni atas dasar pesanan ataukah ekspresi murni senimannya bukan lagi masalah, yang penting adalah hasil akhirnya. Tentunya karya patung semacam itu diciptakan memang hanya satu kali untuk menjadi monumen bagi perumahan tersebut. Dari beberapa pendapat di atas, nampaknya masih ada kesepakatan bahwa sebuah hasil karya seni hendaknya tidak terjebak pada praktek produksi massal, melainkan tetap ada sifat kelangkaan, tak bisa diulang sehingga masih terasa “roh”nya. Jika sudah massal mungkin lebih baik diciptakan genre tersendiri. Kurator Amir Sidharta pun membuat rambu-rambu bahwa karya seni atas dasar pesanan tidak menjadi masalah, asal pihak klien tidak membatasi ekspresi perupa dalam bentuk apapun. Tentunya ini memang sangat baik jika dilaksanakan, tapi apakah benar bahwa otonomi seniman bisa terjaga? Bahkan seringkali kita temui seniman yang tidak dipesan saja, mau “mendikte dirinya sendiri” untuk menciptakan gaya lukisan yang sesuai selera kolektor. Apalagi kalau memang sudah terjadi hubungan memesan dan dipesan. Jika mengikuti rambu yang dibuat Amir Sidharta, mungkin dibutuhkan seniman dengan mentalitas kuat serta posisi tawar berkreasi yang cukup tinggi, sehingga tetap mempunyai otonomi. Dan hubungan kita dan seniman pun akan menajdi sejajar, bukan lagi antara majikan dan buruh.

Leave a Reply

Close Menu