alat musik tiup bernama seruling

1997_awal Maret_Edisi 064_seni:
alat musik tiup bernama seruling

Wajah mempunyai struktur otot yang sangat mempengaruhi kecantikan seseorang. Pendapat inipun sangat dipegang erat oleh Dewi Athena dari Yunani. Akibatnya, ia tega membuang seruling hasil ciptaannya hanya karena takut kecantikan wajahnya memudar.

Suling terkenal karena bunyinya. Tapi, bagaimanakah bunyi itu dihasilkan? Rupanya, di tubuh instrument musik ini terdapat kolom-kolom udara yang digetarkan oleh tiupan pemainnya. Kolom udara tersebut dapat diperpanjang dan diperpendek dengan menutup atau membuka lubang-lubang yang ada di sepanjang tubuh seruling.

Suling hidup dari tiupan permainnya, yang bisa saja berasal dari mulut maupun hidung. Sebenarnya hidung kurang efisien untuk menghembuskan udara kedalam instrument, namun cara main ini banyak ditemui di daerah Pasifik. Mereka menganggap seruling hidung memiliki kekuatan yang khusus. Di Polinesia, seruling hidung merupakan instrument kebangsaan. Biasanya pemainnya menyumbat lubang hidungnya dengan tembakau atau menekannya dengan jari. Seruling hidung terdapat di daerah Kalimantan, Irian dan Batak.

Jenis seruling hidung memang tidak sebanyak seruling yang ditiup dengan mulut. Salah satunya yang menarik dari seruling mulut adalah seruling ganda, yang ditiup dengan satu mulut tetapi bertubuh dua seperti kembar siam. Seruling ini sudah ada sejak jaman peradaban Mesir Kuno, lukisannya tertera pada batu nisan di makam Gizen. Nampaknya orang Mesir sejak dulu telah mengembangkan teknologi musik. Mereka telah mengenal seruling lurus yang dinamakan Mam dan Mem dan seruling lintang bernama Sebi.

Entah bangsa mana yang pertama kali menemukan instrument musik ini, karena nyatanya seruling yang terbuat dari tulang binatang telah dikenal oleh manusia yang hidup di jaman Palaeolitikum dan Neolitikum. Menurut Sachs, dalam bukunya “The Histoy of Musical Intrument”, seruling berasal dari Cina, karena daerah ini merupakan sumber penyebaran alat musik di Asia.

Namun, jika menengok ke Yunani, taradisi musik pun sudah dimulai sejak tahun 1100 sebelum masehi. Orang Yunani menyebut seruling dengan nama Aulos, terbuat daru kayu. Bentuknya mirip clarinet atau hobo dan menghasilkan suara yang kuat menggema. Aulos mempunyai beberapa ukuran yang memiliki daerah nada sesuai suara manusia, seperti sopran, alto, tenor dan bas. Khusus untuk Aulos bernada tinggi disebut Aulos Parthenis yang biasanya mengiringi suara gadis cilik. Sedangkan nada yang lebih rendah disebut Auos Paidikoi, biasanya digunakan untuk mengiringi suara anak remaja. Ada lagi suara yang lebih rendah untuk mengiringi suara pria dewasa, disebut Aulos Teleios.

Orang Yunani pun memiliki seruling Pan yang terdiri dari tujuh pipa direntang menjadi satu deretan, dari yang terpendek sampai terpanjang. Tiap pipanya mempunyai nada urut yang melengking dan biasanya digunakan oleh para penggembala. Mereka menamai seruling Pan dengan sebutan alat tiup Syrinx. Bedanya dengan seruling biasa, instrument ini tidak memiliki lubang jari. Seruling Pan atau kerap disebut Panpipes sudah eksis sejak lebih dari 2000 tahun silam dan bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, misalnya di Peru Mereka sudah mengenal seruling jenis ini, terbuat dari tanah liat dan batu, sejak 200 SM. Instrumen ini juga dikenal oleh nenek moyang orang Bolivia dan orang Italia bagian selatan.

Kalau kemudian seruling menjadi bagian penting dalam pagelaran orchestra, itu karena adanya perkembangan teknologi yang terjadi di Eropa, yang mulai mengenal isntrumen ini pada tahun 1100.

Sumber : Sejarah Musik Jilid 1 oleh Karl. Edmund Prier sj. 2 Musical Instrument of the World an Illustrated Encyclopedia by the Diagram. Group Paddition Press, Ltd. 3 The new grove Dictionary of Musical Instruments. 4 Ensiklopedia Indonesia.

Leave a Reply

Close Menu