Ajakan untuk melepas beban menjadi lebih berani, dan merubah pandangan

1997_awal Agustus_Edisi 074_peduli:
Ajakan untuk melepas beban menjadi lebih berani, dan merubah pandangan

Berbagai gerakan anti kekerasan terhadap perempuan telah menyadarkan dan memberanikan perempuan untuk angkat bicara. Paling tidak, itulah yang diharapkan oleh gerakan perempuan seperti “Spinter” di Australia. Kelompok ini menampung perempuan dan anak-anak korban kekerasan keluarga. Terapi yang dilakukan adalah dengan cara membiarkan mereka, para korban, mengungapkan diri melalui berbagai karya, seperti puisi, cerita, gambar, rajutan, dan patung. Karya ungkapan jiwa yang tertekan ini, pernah dipamerkan di “footscray Commnunication Art Centre” pada bulan September 1990. Diharapkan dengan adanya pameran tersebut, akan tercipta tempat lapang bagi para perempuan tertekan untuk melampiaskan beban yang bercokol lama dalam jiwa mereka.

Bila program Spinster ditujukan untuk kaum perempuan, maka The Oakland Men’s Project (OMP) justru menunjukkan program mereka kepada proses penyadaran kaum pria. Dalam kegiatannya, mereka menemukan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi utama yang mengajarkan bahwa pria itu lebih kuat daripada perempuan, pria tidak menangis, pria mengontrol segala sesuatu termasuk mengontrol perempuan, pria pun harus berani dan sebagainya. Cara berpikir seperti ini sudah sedemikian mapan terpatri di benak pria dan harus diterima oleh pihak perempuan. Program OMP ingin mengajak para pria memeriksa kembali cara berpikir tersebut dan mulai merubah pandangannya terhadap perempuan. Bahkan beberapa pria diajak juga untuk mengontrol teman-temannya yang melakukan pelecehan terhadap kaum perempuan. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah selain perlu waktu yang tidak singkat.

Sekalipun akun feminis mengatakan bahwa mereka tidak ingin mengambil alih peran pria, melainkan hanya ingin mempunyai posisi dan akses yang seimbang dalam kehidupan, tetap saja program ini tidak bisa dikatakan mudah. Bagaimana bisa mudah bila masih banyak pria memandang perempuan bukan sebagai “manusia yang utuh”. Seorang pria yang pernah melakukan percobaan perkosaan ketika berusia 17 tahun mengaku, “memang sulit bagi diriku pada waktu itu untuk menerima kalau aku berbicara dengan seorang perempuan, berhubungan dengan seorang manusia.” Dan, entah ada berapa juta pria lain yang berpandangan seperti ini.

 

Leave a Reply

Close Menu