Air, Majapahit, dan Kemakmuran

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Air, Majapahit, dan Kemakmuran
Ade Tanesia

Bila Jakarta 700 tahun ke depan hanyalah sebuah peninggalan, akankah ia meninggalkan sebentuk kota yang mengagumkan? Atau ia hanya akan meninggalkan gundukan sampah di seantero wilayahnya?

Sungguh dari sebuah peninggalan kita dapat menilai kemajuan atau keterbelakangan sebuah kota. Dan seorang Raden Wijaya seakan tahu betul bagaimana cara untuk mengharum-lestarikan namanya. Ia mewariskan Trowulan, sebuah “kota” di Mojokerto, Jawa Timur, yang sohor sebagai pusat kerajaan Majapahit. Dari tanah pemberian Jayakatwang (Raja Kediri) ini, Majapahit mampu memegang kendali monopoli perdagangan. Hal ini dimungkinkan oleh kematangannya dalam merencanakan dan membangun saluran-saluran air.

Cerita Majapahi, adalah cerita tentang sebuah kerajaan yang meraih kemakmuran dengan memanfaatkan air. Tidak saja sebagai urat nadi pelayaran, tapi juga sumber kesuburan bagi pertanian mereka. Dalam berita Ying-yai Sheng-lan (1416) diungkapkan bahwa pelabuhan Canggu hampir tidak pernah sepi dari duyunan orang yang hendak datang ke ibu kota Majapahit, yang jaraknya satu setengah hari berjalan kaki. Mereka datang dari berbagai daerah. Dalam kisah lainnya, disebutkan pula adanya kedatangan bangsawan asal Persia lengkap bersama unta-unta mereka.

Menguasai titik-titik pelabuhan terpentig, membuka kesempatan Majapahit untuk memenuhi pundi kerajaan dengan hasil pajak dagang dan hasil bumi. Tidak cukup dengan itu, kerajaan ini pun memperluas lahan pertaniannya. Mereka mampu mengirim beras ke daerah-daerah di bagian timur Nusantara untuk ditukar dengan rempah-rempah, yang kemudian mereka jual ke China. Semua kemakmuran ini, sekali lagi, tidak lepas dari kepiawaian Majapahit membangun system pengairan. Mereka membangun waduk, kolam buatan serta kanal, yang tidak saja mampu mengairi areal pertanian, tapi juga berfungsi mengendalikan banjir saat Kali Brantas meluap.

Keseriusan mengelola air bias terlacak dengan adanya jabatan; matamwak untuk mengurus saluran irigasi, hulu wuatan untuk mengurus pengelolaan jembatan dan hulair untuk pengolahan air. Para pejabat inilah yang mengawasi mengalirnya air antara satu waduk ke waduk lainnya serta mengontrol seluruh kawasan agar tidak ada yang mengalami kekurangan air. Sementara untuk memperlancar hubungan dagang, dalam prasasti Trowulan (1358) disebutkan adanya 44 buah tempat penyeberangan di tepi Sungai Solo dan 34 buah lainnya di tepi Brantas.

Menguasai jantung perdagangan laut dan piawai menerapkan teknologi pengairan untuk pertanian, maka lengkaplah kejayaan Majapahit. Tidak berlebihan bila kemudian Majapahit menyandang predikat sebagai kerajaan maritim agraris. Namun, ternyata air pula yang menggiring kerajaan ini ke jurang kehancuran.

Dimulai dengan terjadinya letusan Gunung Anjasmoro tahun 1451. Waduk-waduk, kanal-kanal dan saluran-saluran air banyak tak terselamatkan. Kondisinya diperparah dengan merajalelanya pembabatan hutan oleh para pejabat. Banjir pun tak lagi terbendung. Sementara itu perebutan kekuasaan tengah pula berlangsung. Kilau Majapahit mulai memudar. Pusat kerajaan makin terdesak ke pedalaman, menjauhkan Majapahit dari air yang menghidupinya.

Leave a Reply

Close Menu