[aikon!] Banget !

1998_Februari_Edisi 087_Nuansa:
[aikon!] Banget !

Wayang karton oleh Dalang Anna Ingleby !

Inilah salah satu cuplikan percakapan antara ikan lele dan bulu Entimuk dalam pertunjukan wayang karton. Dengan dalang Anna Ingleby , wayang karton yang berjudul “bulu Entimuk dan Bulu Kenyuang” telah menjadi tontonan anak-anak yang sangat menarik. Visualisai tokoh yang diciptakan Anna sangat merangsang imajinasi dan lucu. Legenda ini mirip dengan cerita Bawang Putih & Bawang Merah, yang bercerita tentang dua wanita kakak beradik dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Bulu Entimuk yang lemah lembut melambangkan sifat baik, dapat mengalahkan ketamakan sementara kekasaran Bulu Kenyuang melambangkan sifat buruk. Namun didalam kesederhanaan alur ini, disisipi kontak antara kedua kakak beradik ini dengan bianatang sungai. Komunikasi mereka sarat akan pesan-pesan yang mempedulikan lingkungan hidup. Yang menarik, pesan ini disampaikan dengan cara yang lucu, sehingga tidak berbau slogan.

Bentuk layar wayang yang satu inipun  menarik. Di atas kain sepanjang 9 meter, Anna menggambar suasana hutan, rumah panggung. Kemudian gulungan kain itu akan diputar sesuai kebutuhan adegan. Walaupun tema ceritanya berasal dari kesenian tradisional, rancangan visualnya tetap menarik untuk anak-anak jaman sekarang. Tak heran pertunjukan ini diminati oleh warga Yogyakarta, saat dipentaskan di Studio Moch. Operasi, yang juga dapat dukungan dari [aikon!] Yogyakarta. Sebelum pertunjukan, disajikan slide tentang kehidupan Suku Dayak di Kalimantan Barat. Tujuannya, tentu saja untuk mengantar imaji penonton pada suasana Kalimantan.

“bulu entimuk, kau jangan membuang sampah sembarangan, karena nanti merusak lingkungan”, ujar ikan lele’.

Bagi Anna Ingleby, mementaskan teater boneka bukan lagi hal baru. Sejak kunjungannya ke India, Ia mulai menekuni panggung boneka. Di sana Anna belajar memainkan boneka tali “ Saraswati” dari Rajastman. Sejak tahun 1993, ia malah kerap kali mementaskan “Saraswati” di Inggris dan mancanegara. Dalam lawatannya ke Indonesia sejak tahun 1996, ia pun membawa Saraswati yang dipertunjukkan di Bandung dan Yogyakarta. Ilmu panggung boneka diperdalam Anna di London dengan cara mengambil pertunjukan boneka di Desmond Jones School of Mime And Physical Theatre. Selama di London, ia menjadi “dalang” pertunjukan boneka, khususnya “kabutar” dan mengajar di berbagai tempat. Keapikannya membentuk visual tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikannya di bidang grafis di Edinburgh College of Art [Scorland]. Menurut Anna, wayang karton merupakan pertunjukan untuk anak-anak dan orang dewasa yang tidak peduli usianya.

“Di Indonesia, tontonan hidup untuk anak-anak masih sangat kurang”, ujarnya di akhir pertunjukan. Lalu, siapa seniman kita yang mau bersusah payah seperti Anna Ingley ? menciptakan tontonan hidup untuk anak-anak jaman sekarang.

Leave a Reply

Close Menu