AIDS BUKAN WARISAN UNTUK ANAK-ANAK

1997_awal Desember_Edisi 082_peduli:
AIDS BUKAN WARISAN UNTUK ANAK-ANAK

CHILDREN LIVING IN A WORLD WITH AIDS, inilah tema peringatan AIDS se-Dunia tahun ini yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu. Tidak banyak anak-anak yang tahu bahwa mereka mendapatkan “warisan keji” ini adalah akibat ulah orang dewasa. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka telah mendapat penderitaan, kehilangan kasih sayang, bahkan masa depan merekapun direnggut.

Menurut catatan, sampai akhir 1997 diperkirakan 5 juta anak di dunia terinfeksi HIV, lebih 90….terdapat di negara berkembang. Di Asia Tenggara pada tahun 1995, terdapat 7.000 orang penderita baru per hari, atau lima enam orang per menit. Dari jumlah itu, 40 sampai 50% adalah perempuan yang berada pada usia reproduksi. Bannyaknya presentase ini diantaranya disebabkan eksploitasi seks terhadap anak-anak untuk tujuan komersial, kekerasan seks bagi anak tunawisma, seks iseng pada ABG (anak baru gede), maupun transmisi dari ibu yang menderita HIV ke bayinya.

Memang, tidak ada jumlah pasti berapa pelacur anak di seluruh dunia. Sebagai ilustrasi dair End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT), di India saja terdapat 400.000 sampai 500.000 pelacur. Jumlahnya yang mengejutkan terdapat pula di Filipina dengan 60.000 anak, an di Cina dengan 200.000 sampai 500.000. Satu hal yang sangat mengkhawatirkn, jumlah besar itu adalah jumlah anak-anak yang rentan tertular AIDS!

HARGA “SEBUAH” HIV/AIDS
Pada tahun 1995, besarnya biaya pengobatan langsung bagi penderita HIV/AIDS di Indonesia suah mencapai Rp.4-17 juta. Biaya untuk tahap HIV diperkirakan sekitar Rp. 1 juta. Sedangkan pada tahap AIDS bervariasi antara Rp. 3 sampai 16 juta. Tapi, tentu saja, total biaya penyakit ini tidak bisa dikalkulasikan secara pasti, tergantung pada usia penderita, jenis kelamin, stadium, lokasi perawatan, dan jenis obat-obatan yang digunakan.

Berapa pendapat mengatakan bahwa unutk mencapai kualitas kehidupan yang maksimal menjelang tutup usia, pederita AIDS sebenarnya tidak memerlukan obat-obatan yang mahal. Cukup dengan vitamin, bimbingan rohani, makanan yang bermutu, olah raga yang tepat atau perawatan tradisional seperti pijat refleksi, juga jamu-jamuan.

Di sampig biaya langsung, penderita HIV/AIDS masih pula mengeluarkan biaya tidak langsung, yang muncul karena urungnya mendapat penghasilan (karena kehilangan kesempatan bekerja). Dan, dibandingkan dengan biaya untuk segala perawatan, biaya tidak langsung ini jumlahnya seringkali berkali lipat besar. Dalam skala yang lebih besar, biaya tidak langsung ini ditanggung juga oleh seluruh warga masyarakat (negara), karena harus kehilangan sumber daya manusia potensial.

PROJECT ANGEL FOOD
Kegiatan amal yang disponsori oleh Philip Moris Companies ini mengirimkan makanan padat dan bergizi secara cuma-cuma, dan tentunya disajikan dengan rasa cinta,kepada pria, wanita, dan anak-anak pengidap AIDS di kawasan Los Angeles.

Sumber:
Prisma 3 Maret 993. Yayasan Mitra Indonesia. Seminar “Perempuan Prostitusi, dan AIDS” (Jakarta, 26 Nopember 1997). Kompas, dan Diskusi Kupu-Kupu AIDS II yang diselenggarakan Wien Café dan Yayasan Mitra Indonesia. The New York July 21,1997

Leave a Reply

Close Menu