Bajaj Texas

Selasa, 29 Juli 2014. Akhir tahun lalu, pemprov DKI Jakarta menyatakan bahwa Bajaj orange (oren) dilarang ‘beredar’ di ibukota, diganti dengan Bajaj Biru berbahan bakar gas. Awal tahun 2014, yang merupakan tenggat waktu yang diberikan, banyak pengemudi Bajaj oren memarkir kendaraannya, untuk menunggu, melihat situasi.. Ternyata aman. ‘Gerakan’ pemprov ternyata ‘hanya’ gertakan. Kini, enam bulan kemudian, para pengemudi bajaj oren telah kembali ‘bebas sliweran’, menebar asap dan kebisingan.

Mungkin kendala ‘konversi’ bajaj oren ke Bajaj biru adalah soal penyediaan bajaj yang ‘dimonopoli’ oleh dua perusahaan, kemudian mungkin juga karena  pompa pengisian BBG belum cukup tersedia. Konon pembangunan sebuah pompa pengisi Bahan Bakar Gas (BBG), membutuhkan investasi lebih dari dua miliar rupiah.

Untuk menjawab ini, kemudian terpikir untuk bereksperimentasi, menguji coba bajaj orange bertenaga listrik. ‘Colokan’ listrik sudah tersedia dan tersebar di pelosok kota. Alat penghitung ‘pengisian’ listrik nya pun dijual bebas.

Di Hari Sabtu sebelum Lebaran kemarin, pak Kinong memenuhi janjinya pada seorang pengemudi bajaj, yang menjualnya untuk pulang ke kampung, menjemput bajaj untuk eksperimen itu. Dananya didapat dari teman sesama pengemudi bemo Karet, pak Saidi. Pak Saidi baru saja menjual bemonya, sehingga ada ‘uang-lebih’ yang belum ada rencana untuk digunakan, selain membeli batu akik untuk sepotong cincin. Malam-malam, pak Kinong ‘menjemput’ bajaj oren yang di sekeliling kaca depannya dipenuhi dengan lampu beragam ukuran. Menurut cerita pemilik lama, bajaj itu sehat wal’afiat dan dapat berlari kencang karena sering digunakan balap-malam di kemayoran, untuk ‘tambah-tambah’.

Close Menu