3000 jenis cacing tanah untuk kesuburuan tanah

1997_akhir Oktober_Edisi 079_peduli:
3000 jenis cacing tanah untuk kesuburuan tanah

Kalau saat ini kita seing ditawarkan sayur-sayuran non pestisida, itu menandakan semakin banyak ornag mulai menyadari kefatalan pupuk kimia buatan dan pestisida. Salah satunya yang paling mengerikan dan menjadi mimpi buruk bagi para petani adalah menurunya tigkat kesuburuan tanah.

Padahal sebenarnya tanah mempunyai pasukan untuk mempersubur dirinya yaitu 3000 jenis cacing tanah yang hidup di tanah lembab, di balik batuan, di perairan tawar dan pemakaian organik yang telah membusuk.

Sayangnya, cacing tanah sudah terlanjur di capa hewan menjijikkan dan sumber segala penyakit. Hanya sedikit yang tahu bahwa cacing tanah punya potensi untuk menyelesaikan persoalan sampah organik, sekaligus menjadi pupuk organik yang akan menjaga kesuburun dan perbaikan mutu tanah. Sehingga usaha budidaya cacing tanah mestinya tidak lagi sekedar sebuah penawaran, melainkan keputusan bijaksana untuk kebaikan lingkungan.

Namun perlu diperhatikan, tidak semua cacing tanah bisa dibudidayakan secara besar-besaran. Melalui sebuah penelitian, yang terseleksi hanya cacing tanah dengan kriteria tertentu, yaitu yang mampu beradapatasi dengan lingkungan baru, tahan dalam perjalanan/pengangkutan, dan punya daya berkembang biaknya bagus. Sampai saat ini tercatat 4 marga yang secara komersial sudah berkembang dengan baik; Lumbricus [habitat terbanyak di Indonesia], Eisenia [berkembang di Taiwan, Australia dan Amerika], Perethima [dan Peionyx [banyak dikembangkan di Filipina].

Sumber:
Seri terapan Tanya Jawab Tentang Cacing Tanah Dan Budidaya, Yayasan Kirai Indonesia: Jakarta.

 

Leave a Reply

Close Menu