2 fakta penemuan mainan

1999_Februari_Edisi 098_selip:
2 fakta penemuan mainan

Lili nenek moyang Barbie
Ide boneka Barbie diawal tahun 1957, yaitu ketika Ruth Handler dan suaminya, Elliot dari perusahaan Mattel sedang berlibur ke Eropa. Pasangan ini memperoleh inspirasi dari boneka perempuan buatan Jerman benama Lili yang ditampilkan sangat seronok, memiliki payu dara besar dengan pakaian sexy serta dibungkus mantel ketat. Lili bukanlah simbol dari gadis yang manis atau santun, tapi mewakili wanita yang percaya diri, dinamis, mandiri. Melihat Lili, Ruth Handler sangat, kagum, karena biasanya boneka yang dijual di tiko hanya bayi yang lucu-lucu. Lalu muncul ide untuk merancang sebuah boneka yang dapat memproyeksikan mimpi gadis kecil tentang dirinya kelak.

Tahun 1959, perusahaan mattel mempoduksi Barbie yang dirancang sebagai model remaja cantik yang mengenakan anting bundar. Sebanyak 351.000 Barbie terjual habis dengan harga $3 persatuannya.

Di tahun 1961, Barbie melakukan “operasi plastik” , kekakuan wajahnya di perhalus dengan mata biru serta gaya rambut ala Jackie Onasis. Dalam perkembangannya, tampilan Barbie disesuaikan dengan sebuah profesi dan bangsa yang melahirkan Barbie Jamaica berkulit lebih hitam dan rambut rasta, Barbie sebagai wanita karir yang membawa kartu kredit, Barbie yang menjadi wanita astronot, Dr. Barbie, dll

Untuk melengkapi kehidupan Barbie, diciptakan tokoh pria bernama Ken. Para pencipta Barbie ingin sekali pasangan ini menikah, tapi perusahaan Mattle memutuskan untuk tidak menikahi mereka, karena nantinya harus dirancang kehamilan Barbie, atau persoalan rumah tangga mereka. Hal ini sudah keluar dari konsep semula, yaitu menjadikan Barbie sebagai wanita idaman bagi para gadis cilik, yang  tentunya jarang sekali berpikir tetang rumah tangga.

Skateboard: Surfing di atas tanah
1958 Skateboard bermula dari sebuah toko surfing [olah raga papan luncur di ombak] milik bill Richards dan anaknya, Mark di Kalifornia. Mereka mengadakan kontrak kerjasama dengan perusahaan sepatu Roda Chicago untuk membuat roda. Di atas roda diletakkan sepotong papan surfing berukuran mini. Desain mainan ini banyak disukai anak-anak,  karena mereka bisa meluncur di jalan yang berbukit-bukit. Mainan ini lalu disebut sidewalk surfing (papan luncur di jalan), walaupun beberapa orang lebih senang menyebutnya terra surfing.

1965 Majalah life menggambarkan skateboard sebagai permainan yang menyegarkan sekaligus berbahaya. Namun Asosiasi kedokteran Amerika menyatakan bahwa skateboard merupakan ancaman kesehatan yang terbaru. Pernyataan menurunkan pamor skateboard, karena banyak orang tua yang tidak mengijinkan anaknya bermain skateboard.

1966 Sebuah film yang berjudul Skater Dater memperoleh nominasi dalam Academy Award telah mengembalikan pamor skateboard. Hal ini diperkuat dengan temuan Richard Stevenson dari Los Angeles. Ia telah menambahkan “ekor” ini bisa memberikan keamanan pemain skateboard sekaligus memperlincah manuvernya.

1971 Stevenson menerima paten untuk skateboardnya.

1972 Seorang pria bernama Frank Nastworthy menemukan bentuk roda yang lebih halus  dan enak dipakai. Inilah awal jaman keemasan skateboard, sekitar 40 juta skateboard terjual di Amerika. Banyak taman dan halaman di amerika dirancang khusus untuk pemain skateboard. Sejak itulah, skateboard mulai ekpansi, tidak hanya permainannya yang ditiru, tapi juga pakaian sampai musik rap’nya digilai anak-anak di seluruh dunia.

Memilih mainan untuk anak
ada kalanya orang tua sulit menentukan mainan untuk anak-anaknya. Tidak jarang mereka membelikan mainan mahal yang hanya unutk memenuhi keinginan mereka, padahal mainan jadi dan rumit akan lebih cepat membosankan jika tidak mampu menumbuhkan fantasi anak. Maretzki dan Maretzky [1963] melaporkan bahwa anak-anak, Taira di Oknawa hanya memerlukan mainan sederhana yang mampu membuat mereka antusias. Dalam studi Pulaski [1970] disebutkan bahwa anak-anak berumur 5 sampai 8 tahun lebih suka meniru-niru dan menciptakan cerita imajinatif dengan material mainan yang sederhana.

Untuk memilih mainan anak, ada baiknya memperhatikan pertimbangan di bawah ini:

  • Tipe mainan seperti apa dan untuk siapa mainan itu dibuat? Apakah desain dibuat sesuai umurnya atau idak?
  • Apakah desain tersebut dibuat untuk individu atau membutuhkan dewasa sebagai mitra-main? Ataukah membutuhkan mainan pendukung lain?
  • Apakah mainan itu dibuat sesuai dengan tempat dan lingkungan mainnya?
  • Apakah desain mainan itu dapat dimainkan anak-anak usia lainnya?

Apakah desain mainan itu membutuhkan waktu dan tempat yang berbeda dengan dari kegiatan lainnya? Apakah desainnya telah memenuhi perbedaan antara main dan bekerja?

Leave a Reply

Close Menu