Coretan Program Bahari

Beberapa waktu lalu, bersama Toha, saya mencoba membuat coretan untuk menjawab apa yang dibutuhkan di dalam sebuah program, sehingga dapat membantu pulihnya martabat negeri ini. Kami menemukan tiga hal, yaitu: Multikultur, Quadra-Helix, dan Ekonomi Kerakyatan.

Berikut ini coretan kami dalam bentuk skema sederhana. Pada skema terkahir, saya mencoba membuat ‘turunan’ program yang akan diuji-jalankan mulai November 2017.

Sila simak dan beri masukan di bawah.

Adat Bangkit Adab Bahari

hendak sebiduk seruang
dalam pelayaran panjang gerak budaya
selami getar halus laku keadaban
asah rasa tingkatan kecerdasan lahir-batin
refleksi spiritual warisan peradaban bahari nusantara

Museum Bahari sementara berbenah, renovasi total ruang baheula tinggalan kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang masa lalu dibangun bertahap tahun 1652-1771; sebagai gudang penyimpanan aneka rempah, teh-kopi, tekstil, juga logam timah dan tembaga. Sisi bangunan di utara Jakarta sekitar Kota Tua yang dulunya gudang barat, mulai dipugar sejak Juni dan akan siap akhir November mendatang. Di halaman luas museum, belandar besar kayu jati asal Bojonegoro terpanjang ukuran 20 meter sementara digarap tukang khusus ahli kayu. Cukup sibuk proses kerja pemugaran di selasar luar gedung kokoh bercat baru, yang relatif sudah terpoles rapih.

Dalam suasana semangat berbenah pula, beberapa teman pemerhati pelaku bahari sore Jumat 6 Oktober 2017 meriung ke Museum Bahari. Ngobrol santai-serius, berbagi terbuka dalam merintis payung program Membangkitkan Pemahaman Wawasan Budaya Bahari. Temu pertama dihadiri 14 orang, dengan harapan terbangun mekanisme kerja bersama para wakil; pemerintah, bisnis, intelektual, komunitas, dan juga media massa. Inisiatif bersama menggali segala daya tersandang, gotong-royong upaya bangkitkan gerakan budaya. Diawali langkah kecil menatap horison melalui persepsi yang sama. Sambil menanam visi prospektif, terus membarukan pola pikir dan laku tindak kekinian yang teguh berpandukan nilai-nilai kebangsaan.

Di ruang dalam kantor sementaranya, Sonni Wibisono selaku tuan rumah yang kebetulan jabat Kepala Museum Bahari – Ondrust, membuka temu dengan cerita bermakna; cinta, kesungguhan, dan tanggung jawab. Menegaskan sang arkeolog ini komit kelola rawat-kembangkan Museum Bahari yang telah berada sejak 40 tahun lalu. Masa renovasi, masa perbaikan menyeluruh. Bang Sonni sebagai pegawai negeri ikhlas membawa sendiri engsel-engsel besi tempa berkarat pemacet puluhan jendela arkais yang bertahun tak terawat. “Terlalu lama jendela ini ada yang terus tertutup saja, beberapa lainnya terbuka sepanjang tahun. Engsel macet harus dibubut. Nantinya jendela-jendela akan berfungsi, dibuka tutup setiap hari sesuai jadwal kerja museum”, ujar sarjana Univesitas Indonesia asal Bukit Tinggi.

Cerita rela berkorban kawan KITA ini menyalakan semangat kepada setiap orang yang hadir dialog sore-malam itu. Dengan kesempatan setara 14 individualita yang hadir bebas bicara. Setiap orang mendengar dan di simak saat berbicara, setara ekspresikan diri dalam suasana musyawarah sampai pukul 20 malam.

Temu awal yang cukup progresif keluarannya. Dari obrolan memahami pentingnya paradigma kebudayaan sebagai proses dan bukan lagi ditempatkan semata sektoral seperti selama ini berlangsung, sampai bahasan membangun ekosistem ruang sosial dalam kerangka kerja saling berbagi.

Musyawarah dengan capaian mufakat dalam beberapa hal, utamanya mekanisme kerja bersama dalam ‘gerakan kebudayaan’. Upaya rintisan bekerjasama dalam sebiduk, sama-sama bekerja melalui payung strategi kebijakan negara-bangsa tentang budaya bahari. Melalui salah satu programnya “Membangkitkan Pemahaman Wawasan Budaya Bahari”, seperti termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Kebijakan Kelautan Indonesia.

Identifikasi diri multikultur melalui penggalian budaya bahari sebagai hulu aktivitas, keluaran kegiatannya akan sangat relevan bermuara dalam sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata. Dua sektor pendorong pertumbuhan tinggi dalam pembangunan yang langsung bersentuhan dengan kepentingan dasar ragam komunitas terlibat di dalamnya. Sekaligus upaya mendorong perimbangan ekonomi kerakyatan melalui kendara dua sektor ini, yang relatif lebih cair untuk bisa mengikat sinergi Quadra Helix yang terdiri dari unsur entitas; Pemerintah, Komunitas, Intelektual, dan kalangan Bisnis. Kolaborasi dinamis heliks merupakan syarat mutlak demi keberlanjutan pertumbuhannya, mengingat keempat entitas terkait adalah para aktor utama penggerak bagi lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang penting demi tumbuhberlanjut sektor Ekonomi Kreatif dan juga Pariwisata. Dalam takar ekonomikal tumbuh sederajat dalam koridor ekonomi kerakyatan, sejalan tren negara maju dunia dimana “perimbangan kekuatan beralih dari pasar ke komunitas” dengan ragam model bisnis: koperasi, yayasan, komunitas mutual, perusahaan sosial.

Kebudayaan sebagai lapis padu rasa-karsa-karya yang mencakup dimensi spiritual-mental-fisikal kemanusiaan, dikedalamannya tertanam genetis pembelajaran-pemaknaan-pewarisan pengetahuan yang meliputi seluruh sektor kehidupan. Melalui cara pemahaman budaya, tak bosan berdawarsa sang begawan perenung kebangsaan, Daoed Joesoef selalu ingatkan: “Bila pembangunan mengacu pada kebudayaan, maka secara manajerial sejak perencanaan, proses penerapan, hingga evaluasi keberhasilan yang dimaksud adalah membangun Ruang Sosial”. Di ‘ruang sosial’ yang memanusiakan manusia inilah putaran orang seorang quadra helix berlangsung, dan diformulasikan sebagai suatu gerakan yang tak berkesudahan. Sebuah proses panjang lebih manusiawi yang akan berkesinambungan, karena individualita warga terakomodasi langsung setara dalam komunitas yang silang belajar. Saling berbagi mencakup keseluruhan nilai diperlukan bagi perkembangan kemanusiaan adil beradab. Bilamana sistem pembangunan Indonesia berazas Pancasila, maka ‘Kemanusiaan yang adil beradab’ haruslah menjadi landas pandu bersama anak negeri dalam membangun negara-bangsa. Kemanusiaan beradab yang mengedepankan ‘manusia sebagai mahluk budaya’ yang sarat simbol, yang selalu mengacu pada nilai-nilai dalam memaknai kehidupannya di bumi khatulistiwa Nusantara.

Simaklah kutipan pidato Bung Karno tentang Pancasila dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945: “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen. Yaitu perkataan ‘gotong-royong’. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong”. Soekarno saat gali Pancasila, bukan semata renungan malamnya natap semesta saat beliau esok akan pidato di BPUPK. Momen refleksi hidup panjang Sang Proklamator maknai rasa, pahami karsa berujud fakta karya bineka, serta sadar ruang geostrategis Tanah Air: “negara lautan yang ditaburi pulau-pulau” Pancasila seperti juga pilar NKRI, Bineka Tunggal Ika, dan UUD-45 rasanya perlu KITA sepakati rupa-ujud nyata bekerjanya kebudayaan, proses kristalisasi dialog intelektual para Bapak Pendiri Bangsa sepanjang-masanya. Benarlah pesan sang guru bangsa Ki Hajar Dewantara “…pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya”. Perikemanusiaan beradab sebagai insan yang utuh berkembang menyangkut lapis humanis; kedalaman spiritual daya rasa, daya karsa pada sisi intelektual, dan daya karya berbentuk fisikal.

Dengan kedalaman makna kebudayaan tersebut, maka bangkitkan pemahaman wawasan budaya merupakan proses panjang kerja pengetahuan. Upaya intens komunikasi nilai dalam rangkai aksi menanam adab-adat bahari dengan sifat-sifat jiwa; gotongroyong, keuletan, kerja keras, kemandirian, pelayanan kolektif, merdeka berekspresi, persaudaraan sederajat, toleran hargai perbedaan, dan rawat harmoni lingkungan ciptaNYA. Kerja yang sangat relevan diinisiasi dari Jakarta sebagai kota pewaris multikultur, Ibukota Negara yang berabad hidup dan dihidupi warga antarsuku serta antarbangsa, dengan segala kekayaan sumber daya ragam budaya yang unik dan saling bersilang wujudkan melting-pot – gado-gado Jakarta. Potensi besar khas metropolitan, yang perlu cermat memperhatikan segala resiko segregasi strata sosial, ekonomi, dan politik berkelindan keamanan.

Kerja budaya dengan visi prospektif tertanam bersama, akan mendorong kreativitas komunal pemicu inovasi yang komit peduli daya dukung lingkungan. Mengajak bergandeng setiap warga masyarakat, bersama jeli tepat sasaran sebarluaskan pola pengembangan sumber kebudayaan (cultural resources) dan modal sosial (social capital). Potensi besar sumber utama dan modal yang dapat ditransformasikan sebagai kekuatan peningkatan martabat kemanusiaan, sekaligus memperkukuh ketahanan budaya.

Pemahaman wawasan budaya bahari dimulai dari diri sendiri, dan bersama KITA sebagai putra-putri bangsa perlu berupaya terus menerus tak kenal lelah menggali jatidiri kebaharian. Temukenali identitas inti jiwa sebagai fitrah negara yang dikelilingi lautan, penyelaman kolektif yang pada saatnya akan temui pendar mutiara wawasan bangsa; adat-adab bahari, kebudayaan bahari, pusaka peradaban bahari. Apresiasi terhadap kekayaan budaya dan sistem pengelolaannya sangatlah penting agar aset budaya dapat berfungsi optimal manjadi sarana edukasi dan rekreasi. Juga terbukanya pengelolaan dan peamanfaatan aset budaya demi keberlanjutannya, yang nantinya sanggup membuka luas peluang produk sinambung industri budaya berbasis ekonomi kerakyatan. Melalui kendara ragam usaha bisnis sektor industri kreatif dan pariwisata.

Inilah masa tahap identifkasi Indonesia yang berkepribadian, dimana komunikasi mengambil peran sentral. Untuk itu, proses penanaman wawasan budaya bahari sebagai perwujudan kumpulan pengetahuan dengan kesungguhan penuh harus selalu dikomunikasikan, agar penerimaan diri ini menyebar seluas lautan demi tegaknya gugus karang kepribadian bangsa. Agar mencapai tujuan keluaran maksimal dengan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif, maka perlu Forum Dewan dengan Tim Pembangkit sebagai organisator aktivitas terkait menyeluruh. Tim kecil konseptor pembangkit ruang sosial yang menyusun rencana strategis dalam mengelola kondisi saat ini untuk melakukan proyeksi situasi masa depan yang penuh dengan tren baru, hal baru dengan segala kejutan semasa. Tim pembangkit yang berorientasi ke aksi kekinian – actual action yang feasible-reliable, aksi dengan berbagai pertimbangan ragam kemungkinan arah dan implikasi masa depan. Aksi melalui upaya pemanfaatan dan pengembangan kebudayaan berkendara subsektor ekonomi kreatif akan sungguh-sungguh dapat memberi dampak peningkatan kualitas hidup, pemerataan kesejahteraan, dan peningkatan toleransi sosial dalam masyarakat. Sejalan dengan penguatan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan, dan mendorong terciptanya inovasi.

Pemerintah daerah Jakarta selama ini telah berusaha melakukan pembangunan bidang kebudayaan, namun masih dengan pendekatan sektoral. Budaya hanya dilihat tampak luar sebagai hasil karya dan ragam cipta tangible lainnya, dan seperti kesenian yang sebagian besar program serta turunan kegiatannya semata mengacu ke tontonan dengan jumlah kehadiran penonton jadi ukuran dan distribusi anggaran yang menyebabkan ketergantungan pasif. Sisi intangible kebudayaan sebagai gugus pengetahuan yang membentuk pola pikir pemandu tuntunan tindak-laku manusia, harus terakomodasi dalam kebijakan Pemda DKI Jakarta dengan Gubernur-Wagub baru terpilih.

Sebagai Ibukota Negara, Jakarta harus berada terdepan dalam daya gerak arah kebijakan memantapkan identitas nasional; inti jiwa, jati diri, dan karakter bangsa yang berbasis pada multikultur. Meningkatkan kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya, dan melakukan aktualisasi dan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan budaya yang disesuaikan dengan kebutuhan jaman. Terkelolalanya kekayaan budaya bangsa yang didukung oleh kerjasama yang sinergis antar aktor Quadra Helix’; agar aset budaya dapat berfungsi optimal sebagai sarana edukasi, rekreasi, serta pengembangan ekosistem ekonomi kreatif – pariwisata berbasis nafas budaya.

Haruslah Jakarta jadi acuan kota panutan daerah lainnya sebagai pionir kebijakan Pemajuan Kebudayaan melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan dengan cara memperhatikan Visi dwitunggal pimpinan Anies Baswedan – Sandiaga Uno: “Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keadaban, keadilan, dan kesejahteraan bagi semua”. Kalau visi ini kita anggap sebagai strategi kebudayaan, maka penting wujudnya suruhan tiga konsep membuhul sebagai kesatuan tak terpisah: keadaban, keadilan, kesejahteraan. Hanya masyarakat beradab yang sanggup tegakkan keadilan.

Demi ujud nyata “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”, maka menjadi penting menanam nilai-nilai luhur budaya, kebangsaan, dan keindonesiaan. Proses tanam, pelihara, tuai yang mendarah daging penuntun; secara moral, intelektual, dan emosional, demi tumbuhkembang ‘ekosistem multikultur’ Jakarta … moga capai kilau gemerlap pendar cahaya Peradaban Bangsa.

 

Gotong-royong, kolaborasi, sinergi Quadra Helix yang terdiri dari unsur; Pemerintah, Komunitas, Intelektual/Akademisi, dan kalangan Bisnis adalah para aktor utama penggerak bagi lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang penting demi tumbuhnya Ekonomi Kreatif dan juga Pariwisata. Skema ulir heliks ini berkembang, kini Penta Helix bertambah entitas ‘media’ lazim diterapkan. Sebetulnya bisa saja media masuk kategori ‘komunitas’ dengan peran wadah ekspresi dan eksplorasi kreativitas.

Mekanisme kerja bersama ini seperti diutarakan Enrico Halim “Dalam setiap gerak program dan turunan kegiatannya harus ditopang oleh segenap anggota ‘quadra helix’. Misal komunitas inisiatif gagas program atau usul kegiatan, maka harus gandeng intelektual atau wakil perguruan tinggi. Dan juga wajib libatkan entitas bisnis serta sinergi dengan pemerintah berikut birokrasinya“. Sebuah upaya bangun ruang sosial yang perlu semangat ruhani yang sama, butuh sabar dalam ketekunan dan harus dikawal dengan komitmen penuh. Bermimpi, biduk rintisan bermula di Museum Bahari kelak layak membentang lapis layar, meniti gelombang jadi bahtera kolektif segenap anak negeri.

Nino Krisnan, perancang perahu – boat architect, yang gerak di bisnis kelautan percaya, “Untuk menjadi negara maritim harus membangun insan Indonesia cinta laut. Dengan komunitas Ayo Berlayar yang sudah jalan bertahun, kita ajak warga Jakarta berlayar melaut sekitar Kepulauan Seribu sambil berbagi pengalaman pengetahuan melaut. Menggugah dan menanam nilai kebaharian kepada setiap orang ini kan gerakan budaya”. Nino sekaligus semangat usul workshop bangun kapal kecil di Museum Bahari, “Sampai tadi saya masih dengan pilihan lokasi lain untuk kegiatan workshop berkelanjutan, membuat kapal kecil yang akan jadi milik bersama beberapa peserta. Saat masuk sini langsung terpikir, kegiatan konstruksi berkala di akhir minggu akan berlangsung di Museum Bahari”. Usulan kongkrit yang langsung dibungkus dalam mekanisme kerja quadra helix, dan rencana bengkel kerja berbagi pengetahuan kelautan ini akan berlangsung Maret tahun depan. Kegiatan bangun kapal ini juga bisa kerja sama silang lintas keahlian, termasuk dengan saudara KITA di Kepulauan Seribu yang juga berprofesi sebagai pembuat perahu – kapal.

Cukup banyak lontar gagasan saat temu adat bangkit adab bahari di Museum Bahari, Jumat 6 Oktober lalu. Mungkin perlu rangkai cerita lain nantinya di ruang aikon.org ini. Setidaknya dalam langkah kecil KITA yang hadir bersyukur, musyawarah menjajaki kegiatan berkala dalam payung program “Membangkitkan Pemahaman Wawasan Budaya Bahari” ini telah mufakat atas beberapa hal berikut:

  • “Membangkitkan Pemahaman Wawasan Budaya Bahari” sebagai gerakan budaya disadari bersama sebagai proses panjang yg harus sinambung, dan perlu dikawal penuh kesungguhan oleh KITA semua pemangku kepentingan.
  • Mekanisme kerja bersama difahami sebagai hal penting untuk bisa mengikat peran aktif wakil-wakil quadra helix.
  • Forum Dewan akan dirintis dengan wakil tetap quadra helix, untuk itu Tim Pembangkit yg telah siapkan kerangka pemikiran akan kelola organisasi sambil memantapkan bentuk manajerial.
  • Museum Bahari (MB) akan dibangun sebagai ruang sosial awal, dan akan berlanjut dialog rutin dengan agenda lebih terarah.
  • Kegiatan kongkrit di MB akan berlangsung sepanjang bulan Desember songsong peringatan nasional Hari Nusantara 13 Desember, setelah renovasi MB selesai akhir November. Bentuk kegiatan akan dirumuskan tim kecil.
  • Kegiatan lain di MB…akan berlangsung workshop bangun perahu dibawah kordinasi Nino Krisnan sang pengusul, rencana aksi Maret 2018.
  • Bahwa pendanaan dari setiap kegiatan tidak harus tergantung ke anggaran APBD. Sumber-sumber dana bisa dibangun oleh kreativitas wakil quadra yg harus hadir pada setiap bentuk kegiatan.
  • Program akan melibatkan warga komunitas Pulau Seribu dengan fasilitasi Sudin Kep Seribu dan wakil warga serta penduduk Jakarta di pulau besar.
  • Jangkauan program harus mampu menarik perhatian penuh segenap warga komunitas Jakarta dari dari kepulauan sampai menjangkau wilayah selatan, yang akan dipermudah dengan bangun platform komunikasi bentuk aplikasi.
  • Membangkitkan Pemahaman Wawasan Budaya Bahari sebagai gerakan budaya, perlu ruh pembuhul sebagai etos pengikat rasa segenap individualita terlibat. Pandangan hidup sebagai pandu nilai kolektif melalui satu kata PÉSÉ —–> pe·se /pésé/ n rasa kemanusiaan yg adil dan beradab, yg menyalakan semangat rela berkorban

SALAAM .. PÉSÉ

KITA DALAM SEBIDUK BERSAMA KESERTAAN ANDA
SERUANG BANGSA BAHARI

Al Beken 141017

Toleransi sebagai Dasar Industri Kreatif, Demi Kehidupan yang Berkelanjutan?

Awal Industri Kreatif adalah dari peninjauan kembali atas aspek Ekonomi Kebudayaan (Cultural Economic) di suatu negara. Pada 1990-an ditemui pergeseran pasar yang mengakibatkan perpindahan lokasi produksi dan perubahan jalur distribusi. Hal ini mengakibatkan banyak lokasi industri, termasuk bangunan-bangunan pabrik dan gudang, ditinggalkan, terbengkalai, dan membutuhkan fungsi baru. Industri kreatif dianggap sebagai obat manjur untuk memperbaiki kualitas kota dan masyarakat yang cenderung menurun. Industri kreatif dimaksudkan untuk mendorong perbaikan kehidupan yang berkelanjutan di dalam masyarakat.

Industri kreatif mengandalkan kreatifitas individu untuk menghasilkan berbagai komoditi yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Di Indonesia, sebuah negara yang masih dapat dianggap belum sepenuhnya meninggalkan budaya kolonial, masih tergagap menghadapi era modern – apalagi pascamodern – industri kreatif didorong oleh pemerintah, melalui Badan Ekonomi Kreatif, – tanpa terlihat sadar tentang berbagai kekurangannya. Toleransi, sebagai satu dari beberapa sumber munculnya kreativitas, masih dianggap sebagai hal yang masih perlu diperjuangkan di Indonesia. Kontradiksi ini dapat dilihat dalam dua pengakuan yang berbeda. Dalam satu pengakuan internasional, lembaga dunia Perserikatan Bangsa-bangsa mencatat kota Bandung bersama 44 kota lain di dunia, sebagai anggota kota kreatif dunia. Di peiode waktu yang kurang lebih sama, Bandung dinobatkan sebagai kota intoleran nomor enam dari 94 kota di Indonesia, oleh Institut SETARA. Bagaimana mungkin kontradiksi ini terjadi? Sebagaimana diketahui umum, toleransi adalah satu dari banyak aspek untuk mengembangkan kreativitas.

Krisis Fordisme – metode produksi ban berjalan yang diawali oleh perusahaan mobil Ford – di mana perilaku produksi konvensional sudah tidak aplikatif dan mendorong munculnya Industri Kreatif yang dianggap sebagai sumber inovasi yang memberi solusi. Perubahan gaya hidup dari masyarakat industri menjadi publik yang memiliki banyak waktu luang (pengangguran), mendorong individual berpemikiran liberal, sekular, dan membuka berbagai konsep kreatif yang baru.

Setiap negara, wilayah, kota memiliki kebudayaan, sejarah, ekonominya masing-masing, yang mana semestinya menjadi dasar dalam menentukan kebijakan Industri Kreatif masing-masing. Harapan dalam mengadopsi Industri Kreatif di samping untuk memperoleh pendapatan ekonomi secara langsung dan perbaikan pada citra kota, adalah: menjadi diskursus penting yang dapat memperbaiki suatu wilayah secara internal, memproyeksikan berbagai kemajuan pada pihak eksternal – soft power.

Sejarah terminologi industri kreatif dimulai pada Oktober 1994 saat pemerintah Australia menerbitkan dokumen kebijakan kebudayaan berjudul Creative Nation. Munculnya dokumen tersebut mendorong Inggris membentuk komisi industri kreatif di 1997 di bawah Department of Media, Culture, and Sport (DMCS) untuk mendefinisikan Industri Kreatif versi Inggris.

Those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent which have a potential for job and wealth creation through the generation and exploitation of intellectual property.”

Definisi untuk industri kreatif ini pula yang digunakan oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.[1] Tujuan Indonesia mendorong Industri Kreatif, tertulis:

  1. Memberi kontribusi ekonomi yang signifikan,
  2. Menciptakan iklim bisnis yang positif,
  3. Membangun citra dan identitas bangsa,
  4. berbasis kepada dumber daya yang terbarukan,
  5. Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, dan
  6. Memberi dampak sosial yang positif.

Industri Kreatif di Indonesia baru mulai diusahakan dengan terbitnya Studi Industri Kreatif Indonesia 2009 keluaran Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Laporan studi itu antara lain menyatakan bahwa pendekatan Statistik Budaya UNESCO – yang digunakan di Australia, Selandia Baru, dan Kanada – tidak tepat bagi pembuat kebijakan dalam memetakan industri kreatif: “Pendekatan ini tidak akan digunakan dalam studi ini karena kecenderungannya yang dapat melahirkan kontradiksi terhadap tujuan studi, yaitu untuk mengukur kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian bangsa. Beberapa aktivitas dalam pendekatan ini, seperti cagar budaya dan lingkungan, berusaha untuk “menghilangkan” kontribusi ekonomi di dalamnya. Alasan lainnya adalah sifat kolektif dari industri budaya dan kurang mengakomodasi perkembangan industri kreatif kontemporer (h. 13).”

Dalam studi yang sama, definisi Industri Kreatif di Indonesia sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. (h. 33)

Industri kreatif tidak (atau belum) tercatat di dalam industri yang diakui negara (h. 37), sehingga untuk mengetahui besaran dampak dari industri kreatif terhadap perekonomian Indonesia, digunakan beberapa indikator utama sebagai alat ukur. Indikator‐indikator yang digunakan adalah berbasis pada: (1) Produk Domestik Bruto (PDB); (2) Ketenagakerjaan; dan (3) Aktivitas Perusahaan, serta (4) Dampak terhadap sektor‐sektor lain. (h. 35). Rata‐rata kontribusi periode 2002‐2006 sebesar 104,637 triliun rupiah atau dengan rata‐rata persentase kontribusi periode 2002‐2006 sebesar 6,28%. Secara rata‐rata kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB), Industri kreatif memberikan kontribusi lebih tinggi dari sektor: (1) pengangkutan dan komunikasi; (2) Bangunan; dan (3) listrik, gas, dan air bersih. (h. 47).

Industri kreatif ternyata tidak berhasil di kota Noosa, 130 kilometer dari kota Brisbanne, Australia tenggara. Industri yang mengandalkan kemampuan kreatif untuk mengembangkan ekonomi kota, ternyata tidak melibatkan mayoritas warga.

Creative industries turned out not to be so inclusive after all. They failed to soak up all those unemployed dirty industry workers and were reliant on educated workers willing to work their way up on low pay and high debt.[2]

Industri kreatif masih dianggap sebagai kegiatan bagi kelompok yang tidak inklusif dan hanya dapat menjawab kulit terluar dari permasalahan yang ada.

The right to the city is far more than the individual liberty to access urban resources: it is a right to change ourselves by changing the city. It is, moreover, a common rather than an individual right since this transformation inevitably depends upon the exercise of a collective power to reshape the processes of urbanization. The freedom to make and remake our cities and ourselves is, I want to argue, one of the most precious yet most neglected of our human rights.[3]

Pertanyaan yang mendasar yang perlu diajukan adalah: apakah kreativitas dapat berkontribusi dalam perkembangan keunikan lokal dan kemaslahatan warga?[4] Sebagai contoh yang lebih spesifik untuk mengkaji hal ini, kita dapat melihat kota Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Setelah pemerintah bersama komunitas kreatif di kota Bandung mengusahakan selama tidak kurang dari tiga tahun, di 2015 kota Bandung berhasil tercatat sebagai anggota dari sebuah jaringan kota kreatif dunia yang beranggotakan 44 kota dari 33 negara. Kota Bandung tercatat sebagai anggota jaringan kota kreatif dunia dalam kategori desain. Dengan keberhasilannya ini, Ridwan Kamil, walikota Bandung berharap masyarakat Bandung dapat berorientasi pada desain karena telah mendapatkan pengakuan tingkat dunia.

Ridwan Kamil berharap warganya tetap mengedepankan desain unik dalam membuat karya atau inovasi kreatif. “Artinya segala unsur kehidupan di Kota Bandung harus punya nilai tambah, disain progresif. Enggak boleh membuat sesuatu yang biasa-biasa aja. Standarnya harus kelas dunia,” bebernya.[5]

Sedikit melegakan bahwa Ridwan menyadari bahwa kondisi yang kondusif demi tumbuhnya kreatifitas adalah adanya toleransi di antara warga kotanya.

“Karena sering beraktivitas di luar, maka warga Bandung interaksi sosialnya baik. Oleh karena itu, warga Bandung tumbuh menjadi orang-orang toleran dan ramah,” jelas wali kota. Dengan cuaca yang sejuk pula, Ridwan mengungkapkan bahwa warga Bandung lebih kontemplatif. Oleh karena itu, banyak muncul gagasan-gagasan kreatif dari hasil kontemplasi tersebut. “Di sini kami mengedepankan industri kreatif. Kami tidak punya sumber daya alam. Makanya kita fokus ke sana dalam skala industri mikro, kecil, dan menengah”.[6]

Prestasi ini bertentangan dengan laporan Tolerant City Index 2015 yang diterbitkan oleh SETARA Institute, yang menyatakan bahwa kota Bandung adalah kota yang intoleran keenam setelah Bogor, Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, dan Depok. Laporan ini mengunakan tiga indikator yang didasari oleh Indonesian Democracy Index (IDI) yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional. Tiga indikator tersebut berupa peraturan dan tindakan pemerintah, serta tingkat ancaman kekerasan di suatu wilayah meneliti kondisi toleransi di 94 kota di Indonesia.

Di tingkat internasional, dalam Global Creativity Index 2015 yang diterbitkan oleh Martin Prosperity Institute,[7] Indonesia berada di urutan 115 dari 139 negara yang diteliti. Penelitian ini mengkaji tiga aspek penting suatu negara untuk dapat dianggap sebagai negara yang kreatif. Tiga aspek itu adalah: teknologi, talenta, dan toleransi. Persoalan toleransi dalam penelitian ini diperoleh dengan mengukur tingkat keterbukaan publik pada perbedaan suku dan agama minoritas, serta penerimaannya pada gay dan lesbian.

Industri kreatif memang dapat dijadikan satu di antara banyak jawaban bagi menurunnya kualitas hidup masyarakat di suatu kawasan. Richard Florida berhasil mencuatkan terminologi industri kreatif yang fenomenal itu. Banyak keberhasilan dan kegagalan dapat ditemukan dari proses berbagai negara yang mengadopsi pemikirannya. Sebuah cuplikan yang penting untuk diingat dari buku The Rise of the Creative Class yang ditulisnya:

The rise of a new economic and social order is a double-edged sword. It unleashes incredible energies, pointing the way toward new paths for unprecedented growth and prosperity, but it also causes tremendous hardships and inequality along the way” (2012: xiii).

Kita perlu memahami hal-hal yang mendasari beroperasinya industri kreatif. Toleransi antara warga negara adalah dasar penting bagi tumbuhnya kreatifitas, yang secara otomatis akan mengembangkan industrinya. Berbagai kegiatan ekonomi yang dilakukan adalah untuk kemaslahatan warga. Pengakuan dunia dan berbagai prestasi yang dapat diraih dalam industri kreatif tidak akan bermakna banyak, bila ia hanya memunculkan kesulitan dan ketidaksetaraan dalam hidup berdampingan, tidak mendorong kehidupan yang baik secara berkelanjutan.

 

 

Daftar Pustaka

 

Buku

Florida, Richard. 2012. The Rise of the Creative Class, Revisited. Basic Books, New York.

Florida, Richard; Mellander, Charlotta; dan King, Karen. 2015. The Global Creativity Index. Martin Prosperity Institute. Toronto, Canada.

Tim Studi. 2014. Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Jakarta.

Departemen Perdagangan RI. 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015.

 

Jurnal

Borén, Thomas dan Young, Craig. 2013. Getting Creative with the ‘Creative City’? Towards New Perspectives on Creativity in Urban Policy. International Journal of Urban and Regional Research. Volume 37.5.

 

Situs Internet

Rasaki, Iko. 17 Mei 2011. Di Bawah Kekuasaan Benda-Benda. https://goo.gl/YY8ULJ pada 30 Januari 2017, 12:30

Suriyanto dan Sarwanto, Abi. 16 November 2015 20:26. Setara: Tujuh Kota di Jawa Barat Intoleran. CNN Indonesia. Diunduh dari https://goo.gl/Z5sYyh pada 29 Januari 2017, 21:26.

Setara Institute. 2015. Tolerant City Index 2015. Diunduh dari https://goo.gl/27aTYC pada 29 Januari 2017, 12:59.

Tempo. 14 Desember 2015. Diunduh dari https://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/14/058727699/bandung-kota-kreatif-versi-unesco-ini-target-ridwan-kamil pada 29 Januari 2017, pukul 21.04.

Pikiran Rakyat. 22 November 2016. Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/11/22/ridwan-kamil-cuaca-sejuk-bandung-bikin-warganya-kreatif-385537 pada 29 Januari 2017, pukul 21.21.

 

[1] Sedangkan definisi Industri Kreatif bagi Amerika adalah segala macam bentuk industri yang berkaitan dengan hak cipta (copyright).

[2] O’Connor, Justin dan Andrejevic ,Mark. 12 Juni 2017. Creative City, Smart City.. Whose City is It? Diunduh dari http://theconversation.com/creative-city-smart-city-whose-city-is-it-78258

[3] Harvey, David (September–October 2008). “The right to the city”. New Left Review. New Left Review. II (53): 23–40.

[4] If ‘creativity’ could contribute to urban growth and wellbeing, paralleling efforts to promote an increased appreciation of forms of ‘vernacular’ creativity (Edensor et al., 2010a; 2010b), to use different indices to link creativity with liveability and sustainability (Lewis and Donald, 2010) or to address issues of equality.

[5] Dikutip dari https://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/14/058727699/bandung-kota-kreatif-versi-unesco-ini-target-ridwan-kamil pada 29 Januari 2017, pukul 21.04.

[6] Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/11/22/ridwan-kamil-cuaca-sejuk-bandung-bikin-warganya-kreatif-385537 pada 27 Januari 2017, pukul 21.21.

[7] Index ini merupakan hasil penelitian yang dibuat oleh Richard Florida bersama Charlotta Mellander dan Karen King atas nama lembaga Martin Prosperity Institute, Rotman School of Management, University of Toronto dimana Richard adalah satu direktur di sekolah manajemen tersebut. Richard juga seorang editor senior untuk situs The Atlantic yang fokus pada persoalan urban dan perkotaan. Richard di 2002 menerbitkan buku berjudul The Rise of the Creative Class yang digunakan oleh pemerintah di banyak negara, termasuk Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia di 2014.

Warung ‘Kopi Beneran’ di ‘Bunderan’

Hari ini ada warung kopi baru buka.

Sebut saja namanya Warung Bundaran Kemang, karena memang lokasinya di seberang utara bundaran yang ada di jalan Kemang Selatan XII, Jakarta.

Jangan berharap terlalu banyak, karena tidak ada yang ‘kekinian’ di sini, karena ini adalah warung seadanya. Obrolan sederhana dengan ditemani kopi robusta asal Lampung, kopi arabika Toraja, atau Aceh Gayo, mungkin dapat mengisi harimu sekali-kali.

Warung ini menyediakan kopi hasil giling dari biji di samping minuman bubuk produksi industri. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah nikmatilah kopi hasil tanah air sendiri, tidak harus yang mahal, apalagi sampai perlu-perlunya memaksakan diri mengonsumsi minuman instan.

Dapur kami adalah bemo berwarna jingga yang pensiun dari berkeliling di tengah padatnya jalan ibukota. Gelas-gelas enamel dan kaca yang digunakan merupakan sumbangan dari banyak pendahulu kami yang selalu ingin berbagi dengan sederhana.

Warung Bundaran Kemang mungkin akan berganti nama di masa yang akan datang. Namun biarlah untuk saat ini, kami namakan demikian. Sampai sekarang, belum jelas betul jam buka warung ini, namun bila melihat kap bemo jingga (oren, orange) di depan warung itu terbuka, maka mampirlah..

Hilangkan, gantikan, lupakan, dan bebaslah dari masalah

Sejak Juni 2017 bemo berangsur-angsur dihilangkan dari jalan-jalan di ibukota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta seperti tidak mempertimbangkan bahwa dengan menghilangkan bemo, maka ia juga menghapus sejarah yang dimiliki alat transportasi untuk menyambut perhelatan Ganefo itu, dan menghilangkan berbagai kenangan di sekitar keberadaan bemo yang dimiliki publik. Di negara ini memang publik dibiasakan untuk cepat lupa.

Dishub menganggap pihaknya telah melaksanakan tugas dengan tepat, karena telah melakukan sosialisasi dan mengeluarkan surat penertiban sebelumnya. “Sebelum penertiban, sudah digelar pertemuan dengan para pemilik. Mereka sudah sepakat direvitalisasi,” kata Kepala Dishub DKI Jakarta, Andri Yansyah, Senin, 24 Juli 2017[1]. Sebagai catatan, sosialisasi yang dilakukan, lebih banyak dihadiri oleh pihak organda dan wakil pemilik bemo yang berpihak pada penjual kendaraan pengganti.

Lepas dari dukungan dishub pada berkembangnya mentalitas pelupa, kata revitalisasi pada pernyataan kepala dinas itu pun tidak tepat, karena yang terjadi adalah penggantian bemo dengan bajaj. Bemo dihilangkan dari peta transportasi umum DKI Jakarta, karena kondisi dan keberadaannya sudah dianggap sudah tidak layak. Bemo tidak sedang di-vital-kan kembali menjadi alat transportasi kota. Bemo sekedar dihilangkan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah pernyataan dari pemerintah bahwa bemo-bemo itu digantikan oleh bajaj. “Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, bajaj yang memiliki roda empat mulai diuji coba di Jakarta. Uji coba itu dilakukan selama 3 bulan mulai 19 Juli 2017.”[2] Bila mengacu pada definisi yang tertulis di dalam undang -undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan, bemo dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor umum dalam trayek, sedangkan bajaj adalah kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek. Bagaimana satu hal dapat digantikan oleh hal lain yang berbeda dalam cara beroperasinya? Ditambah lagi, menurut undang-undang tersebut kendaraan umum beroda tiga tidak dikenal.[3]

Beberapa pertanyaan lain yang perlu dikritisi kemudian, antara lain, adalah: 1. Berapakah jumlah bajaj yang kini telah beroperasi? Apakah belum mencapai jumlah maksimumnya yang menurut Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Emmanuel di 2015 tidak boleh melebih 14,424 buah?[4] Dengan mengalihkan bemo ke bajaj, apakah tidak akan melebihi ‘kuota’ dan akan menimbulkan masalah baru? 2. Apakah publik, khususnya pemilik dan pengemudi angkutan umum, telah mengetahui tentang adanya Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan baik Nasional, Provinsi, maupun kabupaten/kota seperti yang tercantum dalam undang-undang tersebut? Mengajak partisipasi publik (secara tepat tentunya) merupakan asas yang tercantum dalam undang-undang juga bukan?

Di pihak lain, para pengemudi dan pemilik pengemudi bemo memiliki masalahnya sendiri. Mereka terbiasa (atau dibiasakan) untuk tidak berpikir panjang dan cenderung menunggu peruntungan. Mereka berharap kinerja Dishub sama dengan masa kepemimpinan gubernur-gubernur sebelumnya, yaitu ‘anget-anget tai ayam’. Tunggu beberapa minggu, bila petugas sudah lupa, bemo-bemo akan dapat bebas beroperasi lagi – tentunya dengan memberi kontribusi pada petugas dinas di lapangan.

Masalah pelupaan memang akut di negara ini. Hal ini diperparah dengan ketidaktepatan dalam penggunaan kata dan ketidakjernihan berpikir dalam mengatasi masalah. Manusia memang cenderung memperumit masalah.

 

[1] http://www.beritajakarta.id/read/47312/-dishub-rampungkan-tahap-awal-revitalisasi-bemo–#.WXw8JoXBdFU

[2] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/15564481/ada-bajaj-roda-empat-di-jalanan-jakarta-ini-kata-dishub

[3] https://beritagar.id/artikel/berita/bajaj-beroda-tiga-akan-pensiun-dari-jalanan

[4] http://jakarta.bisnis.com/read/20150106/77/388351/setelah-batasi-sepeda-motor-ahok-buat-zonasi-bajaj

Kartu Lebaran dari Jokowi

Di sela kesedihan karena banyak bemo teman-temannya yang dijaring oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pak Kinong senang sekali mendapat ucapan Lebaran dari presiden republik ini.

Pak Kinong beserta istri dan anak-anaknya kemudian menulis dan mengirimkan surat balasan lengkap dengan beberapa gambar dengan spidol.

Selamat lebaran pak Jokowi.

Terima kasih pada Harjuni Rochajati dan Arief Adityawan untuk fotonya.

Terima kasih presidenku.
Terima kasih telah memberi perhatian sederhana yang berarti besar bagi rakyat jelata.

Save

Antara Teknologi dan Kesetaraan: Studi Kasus Bemo Bertenaga Listrik

Di 2011 sebuah kelompok warga Jakarta mulai melakukan upaya revitalisasi atas keberadaan bemo (becak motor) sebagai moda transportasi kota Jakarta. Teknologi kendaraan bertenaga listrik diajukan oleh kelompok madani itu sebagai alternatif dari pelarangan bemo untuk beroperasi. Bemo bertenaga listrik (bemo gatrik)[1] merupakan solusi karena, bagi kelompok tersebut, peniadaan bemo akan ikut menekan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi warga Jakarta – bila tidak bisa disebut menghilangkan satu dari banyak akar kebudayaan kota.

Kelompok yang terdiri warga kota dari berbagai latar belakang ini beranggapan bahwa bemo perlu dilestarikan, karena memiliki sejarah yang panjang dan mengkonstruksi budaya kota Jakarta. Terlebih akibat dari kepunahannya akan lebih banyak memberi dampak buruk dari (sekedar) soal risiko peremajaan transportasi kota. Bagi sebagian warga kota Jakarta, bemo merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bemo merupakan moda transportasi murah meriah yang dapat menelusuri jalan-jalan kecil di antara perumahan, sehingga memungkinkan warga kota untuk berpindah tempat dengan efisien di dalam jarak yang terlalu jauh untuk dilakukan dengan berjalan kaki, terlalu dekat bila menggunakan kendaraan bermotor lain. Bemo merupakan kenangan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Hal lain yang sangat disayangkan bila bemo dibuat punah adalah artikulasi yang dapat timbul kemudian adalah konotasi bahwa konsumsi benda-benda baru lebih diutamakan. Benda lama dianggap tidak berguna dan perlu diganti, tanpa memperhitungkan nilai kebudayaannya. Dalam hal ini, bemo sebagai obyek yang telah ikut mengonstruksi kebudayaan kota Jakarta dianggap tidak berguna.

Becak motor itu awalnya adalah kendaraan pengangkut barang produksi pabrik Daihatsu antara 1957-1963. Oleh Presiden Soekarno bemo dijadikan kendaraan pengangkut penumpang untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta, pada Ganefo di 1963. Di 1996 Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Soerjadi Soedirdja mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang intinya melarang beroperasinya bemo di ibukota. Bemo yang beroda tiga dan bertenaga mesin 2-langkah (2-tak, berbahan bakar bensin campur oli) itu dilarang beroperasi, harus diremajakan, atau lebih tepatnya digantikan, dengan kendaraan roda empat bermesin 4-langkah (4-tak, berbahan bakar bensin).

Sejak Surat Keputusan Gubernur itu berlaku, banyak bemo yang ditangkap untuk dihancurkan. Sebagai pengganti, pengemudi bemo diberi fasilitas kredit kendaraan Angkutan Pengganti Bemo (APB) yang beroda empat. Faktor ketidaksiapan birokrasi dan banyaknya oknum di lapangan mengakibatkan ratusan pengemudi bemo itu tidak dapat menggunakan fasilitas yang ditawarkan. Bemo-bemo yang terjaring diperjualbelikan secara tidak resmi, sehingga ratusan bemo yang terjaring itu kembali beroperasi, walau tanpa surat-surat resmi. Karena bemo menjadi sebuah kendaraan yang tidak legal, jumlah pemasok suku cadang untuk kendaraan beroda tiga itu makin lama makin berkurang, mengakibatkan suku cadang bemo pun sulit didapat. Para pengemudi bemo bergelut dalam situasi yang sulit. Selain mereka perlu bersiasat untuk menghadapi aparat hukum, mereka perlu memberdayakan kreativitas yang tinggi untuk membuat bemo-bemo mereka mampu untuk terus beroperasi demi dapat tetap menghasilkan uang untuk hidup mereka dan keluarga.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di 2012 sebuah kelompok madani warga Jakarta mendorong program revitalisasi bemo. Selain melakukan pendekatan ke pihak pemerintah, kelompok ini berpatungan dan bergotong-royong menghadirkan berbagai teknologi yang mudah, murah, dan cocok untuk diterapkan pada bemo. Harapannya, teknologi yang tepat dapat mendorong perbaikan kehidupan para pengemudi bemo. Teknologi diharapkan dapat menghadirkan kesetaraan.

Berbagai eksperimen dilakukan yang utamanya adalah untuk menjawab permasalahan inti, yaitu agar bemo tidak mengakibatkan polusi suara dan udara. Mulai dari eksperimentasi menggunakan gas hidrogen yang disalurkan ke karburator untuk menekan gas buang, sampai akhirnya berhasil membangun sebuah bemo bertenaga listrik (bemo gatrik) berbadan serat kaca (fiberglass). Usaha patungan dan gotong-royong sebagian kecil warga Jakarta itu banyak membantu dalam proses eksperimentasi, sehingga bemo gatrik dapat meluncur ke Balai Kota untuk mengajukan sebuah alternatif transportasi kota yang bebas polusi udara dan suara di Februari 2013.

Teknologi motor listrik (Brushless Direct Curent motor) dan baterai jenis Solid Lead Acid (SLA) yang digunakan untuk menggerakkan purwarupa (prototype) bemo gatrik mampu mengangkut beban jarak pendek, sesuai dengan kebutuhan para pengemudi bemo. Teknologi motor tanpa sikat itu meminimalisir adanya kebutuhan perawatan berbiaya tinggi, seperti penggantian pelumas secara berkala. Baterai SLA merupakan wadah penyimpan energi listrik yang paling minimal untuk suatu aplikasi kendaraan listrik. Masa operasinya cenderung panjang, yaitu dapat mencapai dua tahun. Saat uji coba untuk menarik penumpang, bemo gatrik mampu menempuh sekurang-kurangnya jarak 15 kilometer dengan beban enam penumpang di belakang dan satu di depan, sebelum kemudian perlu dilakukan pengisian baterai (charging) selama enam jam. Kemampuan ini dianggap dapat menjawab kebutuhan para pengemudi bemo yang mengangkut penumpang empat sampai lima rit di pagi hari pukul 6-9 dan di sore hari pukul 16-19.

Teknologi yang diaplikasikan pada sebuah purwarupa bemo gatrik itu diharapkan dapat sedikit banyak meningkatkan posisi tawar para pengemudi bemo di mata birokrasi pemerintah, sehingga negosiasi dapat terjadi secara setara. Berbagai usaha dilakukan untuk menghadirkan teknologi yang dapat dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada produsen skala industri, namun ternyata tidak mendapat tanggapan yang setara dari pihak pemerintah. Para pengemudi bemo tetap dihadapkan pada pelarangan yang tercantum di dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 1996.

Imajinasi, inspirasi, dan inovasi melalui teknologi tenaga listrik pada bemo gatrik ternyata memperlihatkan tidak majunyanya cara pikir aparat negara. Hal ini dapat disimpulkan, bila tidak ingin berasumsi bahwa teknologi kendaraan listrik akan menggeser, mengecilkan, sehingga menurunkan pendapatan pabrik kendaraan bertenaga bahan bakar minyak – fosil. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Edward Tenner dalam bukunya Why Things Bite Back, bahwa pada setiap langkah maju di dunia teknologi, bersamanya akan membawa kemunduran satu langkah yang tidak terduga.[2] Dari studi kasus program revitalisasi bemo gatrik di Jakarta, kita dapat melihat bahwa kehadiran teknologi tidak selalu menghadirkan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan dalam berkehidupan perlu didampingi adanya pemikiran kritis dan niat progresif dari setiap pihak yang terlibat dalamnya.

 

[1] Program Revitalisasi ini dapat diketahui lebih lanjut melalui situs aikon.org.

[2]A step forward in technology tends to bring with it an unexpected step backward. A step forward for some people frequently brings with it a step backward for others.” Dikutip dari tulisan Profesor Freeman Dyson berjudul Technology and Social Justice di dalam kuliah umum Nizer 1998. Freeman Dyson adalah akademisi di Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey. Di unduh dari tulisan situs Carnegie Council November 25, 1997. https://www.carnegiecouncil.org/publications/archive/nizer_lectures/004 pada 21 Juni 2017, pukul 09:35.

Kirim Buku Gratis

Kabar gembira dari Pustaka Bergerak.

Setiap tanggal 17 Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku ke seluruh wilayah Indonesia.

Syarat pengiriman buku: berat paket maksimal 10 kg, dan paket mencantumkan kata “BERGERAK”.

Mohon kawan-kawan yang punya buku (bekas pun tak apa) meluangkan waktu ke kantor pos terdekat pas 17 Juni nanti, dan kirim buku ke kawan-kawan relawan.

Berikut ini alamat jaringan relawan Pustaka Bergerak. Sila pilih yang dianggap sesuai. Disarankan untuk kirim buku ke wilayah perbatasan atau kepulauan dan daerah terpencil lainnya.

Terima kasih banyak.

Salam Pustaka Bergerak

Save

Save

Bemo akan hilang?

Setelah dilarang beroperasi sejak terbitnya SK Gubernur DKI Jakarta di 1996, 21 tahun kemudian, Senin, 6 Juni 2017 kemarin, bemo kembali dinyatakan dilarang beroperasi. Memang banyak ‘kesimpangsiuran’ dalam penanganan moda transportasi yang muncul pertama kali di Jakarta di 1962 ini.

Pak Kinong berusaha untuk ‘meluruskan’, dengan menanggapi empat pilihan yang ditawarkan oleh pemprov dki, walau informasi tersebut diterima melalui pesan singkat.

Berita mengenai persoalan ini juga tertulis di harian Kompas yang terbit 8 Juni 2017 kemarin.

Apakah kali ini becak2 bermotor itu benar2 akan hilang? Pagi tadi, 12 Juni 2017, pak Kinong mengabari, delapan bemo trayek Karet disita oleh Dinas Perhubungan melalui DLLAJR nya.

Save

Save

Garis-garis di dalam Galeri

Rifky Effendy, atau yang dikenal dengan panggilan Goro, dulunya adalah seorang pembuat keramik di studio Bata Merah, kini adalah satu dari dua kurator pameran Amok Tanah Jawa yang akan dibuka di Langgeng Art Foundation di sore hari itu. Ia melambaikan tangannya menyambut kedatangan saya. Sambil tetap berdiri di samping meja penerimaan dan menyodorkan tangan untuk memberi salam, ia mengarahkan saya untuk melihat pameran di lantai bawah, mengingat masih ada sedikit waktu sebelum pameran karya seniman Moelyono yang ia kurasi itu, dibuka.

Di lantai bawah sedang diselenggarakan pameran berjudul Labirin, karya dua perupa muda lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Rega Ayundya dan Kara Andarini yang kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka memamerkan karya-karya yang dibuat dengan media spidol di atas akrilik dan bolpoin di atas kertas. Satu di antara banyak karya yang dipamerkan di ruang berlantai semen tanpa pendingin udara itu, adalah karya Kara berjudul Stacked Space #4.

Kara Andarini
Stacked Space #4
2017
Bolpoin di atas kertas Montval 300 gsm
95 x 180 cm

Kara membuat banyak sekali bentuk garis secara berulang. Garis tipis, garis tebal, arsiran, dan titik yang dibuat agak tebal. Coretan warna hitam dari bolpen itu dibuat berulang dan merupakan kombinasi antara garis tegas dan halus, kadang vertikal, kadang horizontal, dan diagonal. Selintas karya ini terlihat sebagai gambar sederhana (sketch) dari kotak-kotak tidak beraturan yang saling bertumpuk. Berkesan abstrak, tidak sedang menyampaikan pesan yang kongkrit.

Setelah memandanginya lebih lama, saya mulai melihat garis-garis itu membentuk bidang-bidang datar: ruang, atap, dinding, jendela, dan pintu. Ada rumah dengan antena kawat di sebelah bidang putih yang di atasnya muncul garis yang mirip bulan sabit. Atap-atap miring di atas sebuah selasar yang menaungi sebuah pelataran yang berada tepat di pinggir jurang, dapat terlihat di satu bagian. Di bagian lain, agak di tengah, muncul bayangan hitam dari sesuatu yang organik, atau mungkin itu adalah kumpulan beberapa pohon cemara yang tumbuh liar dan tidak terawat. Seutas kawat besi terlihat membentang dari satu tiang bambu ke tiang lain yang agak melengkung, kemudian membelok ke tiang lain yang berada di samping dinding bangunan bertangga terjal. Selain terdapat warung-warung yang berwujud hampir kubus dan beratap seng yang ada di mana-mana, saya juga dapat menemukan toilet terbuka yang dibuat agak terpisah dari daratan, menjorok ke sungai. Bagi saya, karya ini berbicara tentang kampung susun yang sangat dinamis dan artistik.

Stacked Space #4 bisa jadi merupakan sebuah karya yang menggambarkan sebuah kampung susun yang kosong, sepi, tanpa penduduk, tanpa kehidupan. Namun setiap kali fokus mata saya berpindah, garis-garis itu seperti sedang menari bersuka ria, saling terhubung, bergetar, bermain, dan menyampaikan pesan-pesan yang sederhana – terasa kampung susun itu tidak sepi, walau tanpa penghuni. Karya ini telah memenuhi berbagai aspek formal yang perlu dipenuhi untuk dapat dianggap sebagai sebuah karya seni. Ia memiliki tegangan ekspresi maksimal, seperti yang saya rasakan saat melihat garis-garis coretan pensil dan cat minyak di atas kardus yang dibuat Joan Miró secara hati-hati atau pada gambar-gambar cepat Gustav Klimt, yang mana lukisannya kemudian berhasil menyandingkan garis-garis dan bidang-bidang geometris dengan garis dan bidang organik yang mengekspresikan emosi secara maksimal. Agak berlebihan? Mungkin.

Garis-garis pada Stacked Space #4 ini memenuhi selembar kertas yang tingginya melebihi tinggi tubuh si seniman. Entah bagaimana ia mengumpulkan energi yang demikian besar untuk dapat menghasilkan garis-garis dengan ketebalan dan gelap tinta yang konsisten. Format karya Kara yang menggunakan kertas berpotongan vertikal sebagai medium penerima ini mengingatkan saya pada lukisan gulung lansekap Dinasti Han dan dinasti sebelumnya. Obyek yang terdekat berada di bagian bawah, berurut ke atas, di mana gambar di puncak adalah obyek terjauh, yang tetap digambarkan dengan ukuran sama dengan obyek terdekat. Saya selalu menemukan hal baru ketika menggeser pandangan mengikuti garis-garis hitam itu.

Mungkin Kara adalah seorang anomali dari Generasi Milenial – generasi yang lekat dengan berbagai aplikasi teknologi dijital sejak lahir. Ia seorang anomali karena karya yang dihasilkannya tidak menunjukkan kegagapan dalam menggambarkan sebuah situasi yang sangat relevan pada saat ini. Sebuah karya yang gagap hanya dapat terjadi bila seorang seniman memaksakan diri untuk dapat menghasilkan suatu karya yang sebenarnya berjarak dari kehidupannya sehari-hari. Garis-garis pada Stacked Space #4 terlihat alamiah, tidak dipaksakan, dan seakan memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Pengamatan yang sangat dekat pada obyek dapat dipastikan terjadi sebelum si seniman mulai menggoreskan bolpen itu di atas kertas yang pasti telah dipilihnya dengan pertimbangan yang mendalam. Lepas dari karya yang sudah baik, sangat disayangkan adanya persoalan generasi milenial Indonesia yang sangat dekat dengan pengaruh budaya asing, khususnya Amerika, yang muncul dengan jelas. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa Inggris sebagai judul karya dan penulisan sinopsis berbahasa Indonesia, yang kualitasnya tidak sebanding dengan dalamnya makna-makna yang dapat diangkat dari karya-karya yang dipamerkan.

Tiba-tiba suara Goro terdengar dari atas lubang tangga, tanda bahwa acara pembukaan pameran di atas, akan segera dimulai. Saya bergegas menuju tangga dan naik. Arahannya untuk saya melihat pameran di lantai bawah adalah ide yang baik. Saya sungguh beruntung, tidak melewatkan karya baik dari seniman muda yang mungkin akan makin menjadi nantinya.

Save

Save